Syndroma of Literer (Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)

Agustus 24, 2006 at 2:34 pm 3 komentar

Seri tafsir ke-kita-an. Karena
kita adalah ke-aku-an yang majemuk

Syndroma of Literer

(Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)

Entah sudah berapa buah buku yang sudah saya baca, yang secara khusus membahas tentang menulis. Hingga akhirnya saya jenuh membacanya., dan saya pun berkesimpulan menulis tidak cukup dengan teori. Akan tetapi memulai menulis itu adalah resep yang paling mujarab. Dapat pula kita ajukan pertanyaan, entah sudah berapa buku yang membahas tentang budaya menulis. Atau entah sudah berapa banyak penulis yang menulis tentang menulis. Perkembangan dunia kepenulisan yang begitu “dahsyat” dan dinamis membuat orang berbondong-bondong berkiblat kepada dunia literer. Dunia yang dulunya sangat “tabu” untuk dilakoni, bahkan terkesan “najis” untuk disentuh. Celakanya lagi dunia kepenulisan-dulunya-hadir dalam rupa yang superioritas yakni milik mereka yang bergelut di dunia sastera. Sekarang, dunia kepenulisan begitu akrab dengan keseharian kita, menembus ruang dan waktu serta batas usia. Maka jangan heran bila ada anak-anak usia TK atau SD sudah populer dalam menulis. Buku yang membahas tentang menulis bertebaran di sudut-sudut toko. Bahkan saking banyaknya pecandu literer: litereoholic (baca: pelaku, penikmat dan penyuka dunia kepenulisan) jenis-jenis tulisan pun bermunculan bahkan mebentuk mazhab-mazhab baru dalam dunia kepenulisan.

Hal ini tentu tidak bisa kita lepaskan dari pengaruh peradaban yang berjalan sangat dinamis, linear dengan pola pikir manusia yang dinamis. Setiap gerbong sejarah, tentu melahirkan ciri khas masing-masing. Misalnya saja dalam dunia sastera Indonesia. Kita diperkenalkan dengan beberapa mazhab. Ada yang namanya sastra zaman pujangga lama, zaman pujangga baru dan zaman modern serta abad millennium (coba ingat kembali pelajaran bahasa dan sastra Indonesia waktu kita masih SD – SMA, pasti nyambung deh!).

Dari segi tema pun, juga sangat beragam. Mulai dari tema (picisan) cinta, heroic, Gender, konflik, social, hingga menyerempet ke urusan ranjang dan kelamin. Sebut saja Jakarta Under Cover (Muamar Emka), Jangan Main-Main dengan Kelaminmu (Djenar Mahesa Ayu), Larung (Ayu Utami), Kampus Under Cover (Lupa nama Penulisnya), Sex in the Kost (Iip Wijayanto). Tema-tema seperti ini laris manis di era 2000-an. Dalam konteks kekinian, khususnya di Indonesia, mazhab itu begitu menonjol. Untuk Indonesia, trend menulis sekarang adalah berkiblat pada kehidupan remaja yang gaul, anak sekolahan dll. Model tulisan seperti ini yang kemudian disebut sebaga Teenlets. Tapi, dalam tulisan ini, saya tidak sedang ingin membahas mazhab-mazhab tulisan atau menggurui anda tentang menulis. Sekali lagi: “Tidak”,titik! nggak pake koma. Untuk persolan ini saya tidak cukup kapabel untuk memperbincangannya. Saya tidak ingin “merampas” hak mereka yang lebih mafhum dengan hal ini.

Fenomenologi komunitas antic: syndrome of literer and discus

Lalu, apa yang hendak saya bahas dalam tulisan ini. Begini!, saya mengamati akhir-akhir ini “libido” menulis rekan-rekan saya, semakin menggebu-gebu. Setidaknya itu terlihat dari majalah tembok (Mabok), ralat, majalah dinding maksudnya, yang sudah tak kuasa lagi menahan huruf demi huruf. Yang kemudian menyusun menjadi kata, lalu kemudian terangkai menjadi kalimat yang apik, lalu membangun satu kesatuan kalimat, hingga disebut sebagai sebuah karya tulis (mau mi’ diganti kodong gabusnya, ganti ki’ dengan yang lebih besar lagi). Bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang fenomena kawan? Mereka menisbatkan diri dalam sebuah komunitas “antik” D17. Antik? Iya, antik. Emang kenapa? Ada yang salah ya? Mereka yang sering singgah-entah untuk melakukan apa saja-dan tinggal di D 17, mereka itulah komunitas antik. Demikianlah mereka saya sebut. Baik, kita mulai. Tapi mulai dari mana ya? Oh, saya baru dapat ide. Jangan berpaling dulu.

Komunitas antik Wesabbe D17 (WD17), demikianlah saya menyebutnya. Komunitas ini bukan tempat kongko-kongko. Bukan pula komunitas yang biasa-biasa aja. Mereka bergerak dan berbuat di atas rel-rel dakwah menuju sebuah tujuan mulia: menggapai ridha-Nya untuk kejayaan islam. Komunitas ini unik. Penunggunya (baca: orang yang menetap dan sering bermalam di D17), pun unik. Uniknya, karena beberapa hari yang lalu kami seperti kahilangan ide dan motivasi lantaran tidak bersentuhan dengan tuts keyboard computer, dikarenakan computer yang kami pakai diambil kembali oleh si empunya. Mungkin terindikasi syndrome literer. Sebuah sindrom ketagihan menulis atau ada kecemasan ketika tidak menulis. Demikian diagnosa awal saya (cie…, kaya dokter aja). Tapi yang pasti, sekarang computer KAMDA dah bagus dan bisa dipake buat nulis-nulis.

Banyak alasan kenapa orang harus menulis. Tapi sebahagian besarnya mengarah kepada satu kesimpulan: aktualisasi diri. Lantas, apa yang salah dengan aktualisasi diri? Over acting kah hal tersebut? Tidak! Sah-sah saja kok jika seseorang keranjingan menulis. Menurut saya itu hal yang fitrawi. Bahkan Abraham Maslow yang juga kita kenal dengan teori Jembatan Maslow nya, menempatkan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang utama dan mendasar bagi manusia dibandingkan dengan kebutuhan lainnya (kebutuhan primer, sekunder dan tersier). Hanya saja, menulis dalam ruang publik butuh pertanggung jawaban (acountability), sehingga tulisan menjadi lebih bermakna. Bagi aktivis dakwah, Intinya jangan sembarang menulis, apalagi tulisanya sesat lagi menyesatkan (he…99x. Kaya fatwa ulama saja).

Bagi komunitas antik (antic-ers), menulis adalah suatu keharusan atau sesuatu yang wajib. Tiap hari harus ada karya yang lahir dari kamar kita masing-masing. Makanya antic-ers ini mencoba menginisiasi dan memberi contoh kepada kader-kader KAMMI untuk menumbuhkan budaya literer ini. Jangan hanya menulis karena keterpakasaan. atau hanya karena membayar iqob. Tulis aja, seolah tanpa beban. Biarkan pikiran kita mengembara dan salurkan lewat tuts keyboard. Demikianlah komunitas antic-ers ini berkarya. Hal-hal yang (biasa dianggap) sepelepun juga diwacanakan untuk kemudian didiskusikan. Masalah apa saja, tidak peduli apakah masalah tersebut substansi atau tidak. Dalam ruang diskusi terjadi dialetika. Artinya ada komunikasi dua arah. Dalam ruang dialetika, tidak mengenal masalah itu substansi atau tidak substansi. Sebab, dalam ruang diakletika tidak ada yang tidak substansi. Semuanya serba substansi. Begitulah uniknya antic-ers. Sekali lagi jangan phobia dengan diskusi. Dari diskusi, input informasi akan tertananm dalam ingatan kita, kemudian kita tumpahkan kembali dalam bentuk tertulis. Luar biasa!. Inilah komunitas antik. Mereka memilih menikahi tuts keyboard dan monitor komputer untuk membunuh dinginnya malam, serta saat syndrome ingin menikah mulai mampir di ubun-ubun. Proses berpikir terbangun dari sini, sehingga otak tidak tumpul.

Fenomenologi komunitas antic: Style, character and behavior

Dari segi penampilan aja, masing-masing nggak matching. Ada yang celananya di atas mata kaki, ada yang berpenampilan seperti preman, tapi untungnya berhati Stinky, ada yang body nya terlalu over (Boge= Body gede maksudnya), ada yang seperti Kutilang (Kurus tinggi langsing maksudnya). Ada juga yang punya waktu khusus untuk tidur: tidur pagi. Pokonya macam-macam deh. Dari sifat dan karakter apalagi. Ada yang tawadhu sekali, ada yang diam-diam menghanyutkan, ada yang sensitif, ada yang suka terbawa emosi, ada yang karakternya keras, ada juga yang berkarakter kapitalis lantaran selalu minta ditraktir tanpa kontribusi sedikitpun, intinya pake teori asas manfaat (he…3x, ini kebiasaan buruk Bro! Tapi ukhuwah kita masih ada kan?). Demikian julukan yang diberikan oleh salah seorang diantara kami.

Dialog antara sifat dan karakter keakuan yang majemuk tersebut, membuat para komunitas antic (antic-ers) harus bisa mendefinisikan ulang keakuannya masing-masing. Hal ini perlu, agar tidak terjadi benturan, sehingga melahirkan ke-kita-an. Untuk itu diperlukan kesalingpahaman. Makanya saya menuliskannya agar kita menyadari, bahwa ada yang perlu diperbaiki dari diri kita. Tapi meskipun demikian, nuansa keakraban juga lahir dari karakter yang majemuk. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk mengobati syndrome literer yang sedang menjangkiti saya. Wallahu’alambishowaab.

No copyright. Silahkan dibajak habis-habisan. Pelanggaran terhadap tulisan ini, tidak akan dikenai pasal apa-apa, apalagi pasal pembajakan. Maaf tulisan ini belum dipublikasikan apalagi best seller, karena memang tidak niat untuk diperjual belikan apalagi diperdagangkan (tetap aja sama maknanya Bung!!!). Sepertinya saya harus menulis nama nih! agar nggak dituduh yang macam-macam. Saya Aryanto Abidin. Jabatan:bukan siapa-siapa kok.

Pantangan membaca tulisan ini: Dilarang membaca diam-diam, Jangan baca saat marah atau kesal, Nggak boleh syirik, Tulisan ini adalah pengantar tidur, makanya jangan baca kalo kamu lagi sedang serius. Saya menulis tulisan ini saat saya sedang bosan, makanya tulisan ini juga membosankan (nggak mutu, tau. Tulisan ini nggak konsisten, bawaannya serius, eh…, ujung-ujungnya ngawur coy!. Masih mau ko’!!.

Entry filed under: Tips menulis. Tags: .

Halo, Apa Kabar Ospek? Sumber Daya Perikanan, Kekayaan Kita yang (masih) Merana

3 Komentar Add your own

  • 1. deen  |  Agustus 25, 2006 pukul 6:06 am

    yg saya tau.. saya menulis karena saya suka.. hemm.. tulisannya bener2 pengantar tidur euy.. puanjang banget.. klo di jilidin bisa tebel bwt bantal apalagi klo size fontnya 20..:)

  • 2. pancarAdis  |  September 22, 2006 pukul 8:03 am

    Salam kenal yah, membaca tulisan anda, saya terbayang rekan saya yang memakai kacamata tebal. tapi pandai dalam bikin essai
    salut untuk anda.

  • 3. Aryanto Abidin  |  September 22, 2006 pukul 2:21 pm

    Terimakasih atas komennya. Tapi apakah tulisan saya ini seperti essai ya? Sampai detik ini, saya belum bisa membedakan yang mana namanya essai atau opini. Yang jelas, saya hanya ingin menulis, sekedar menumpahkan keresahan. But, thanks atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Agustus 2006
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: