Halo, Apa Kabar Ospek?

Agustus 21, 2006 at 7:06 am Tinggalkan komentar

Halo, Apa Kabar Ospek?
Oleh: Aryanto Abidin

Jika hati anda bergetar melihat penindasan, maka lawanlah
sebab diam adalah bentuk penghianatan

(Ernesto ‘Che’ Guevara)

Halo!, apa kabar Ospek?. Masihkah kau seperti dulu?. Masihkah kekerasan sebagai make-up yang membungkus wajahmu? masihkah kekerasan menjadi pemanis ritualmu?. Prosesi penyambutan Mahasiswa Baru kalau tidak ingin disebut ‘Mangsa Baru’ bagi senior-seniornya. Betapa tidak, setiap mahasiswa baru mendapat perlakuan yang sangat tidak etis bahkan bisa dikatakan saling berjabat tangan dengan pelanggaran HAM (Penindasan,pemerasan dan kekerasan). Prosesi penyambutan mahasiswa baru atau yang lebih sakralnya disebut “OSPEK”, kini lagi marak-maraknya. Di kampus merah ini pun persiapan untuk penyambutan sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bahkan konon kabarnya lebih baik program kerja yang lainnya tidak jalan ketimbang Ospek. Ospek seperti kita ketahui bersama sangat rentan dan memberi peluang bagi terjadinya kekerasan. Meskipun banyak pihak yang menentang ospek, namun hal itu dianggap angin lalu dan ospekpun “melenggang kangkung” menuai kekhawatiran di kalangan orang tua mahasiswa baru.

Dasar kita (baca: mahasiswa) memang tak pernah kehilangan akal. Dengan susah payah demi terlaksananya Ospek, lembaga-lembaga mahasiswa-pun menggagas yang namanya Ospek damai (mudah-mudahan bisa damai lahir maupun batin).

Untuk mempersiapkan ospek ini, lembaga-lembaga mahasiswa tingkat fakultas sudah memformatnya dua hingga tiga bulan sebelumnya. Bahkan untuk menciptakan Ospek Damai, mereka (baca: lembaga-lembaga Mahasiswa) sampai ‘Jatuh Bangun’ untuk membentuk suatu forum formal demi ter-Legitimate-nya kembali Ospek. Siapa sih yang mau melewatkan momen ospek ini ?. Selain merupakan lahan produktif untuk mengais rejeki nomplok, bagi senior-senior yang ingin ‘senter-senter’ maka ospeklah tempatnya. Bagi yang suka ‘pajak-pajak’ untuk sebungkus rokok atau satu botol Coca Cola, maka ospeklah tempatnya. Bagi senior-senior yang ‘Gila Hormat’, sangat sayang untuk melewatkan momen yang berharga ini.

Bagi para orang tua Mahasiswa Baru, ada kebanggan tersendiri di hati mereka sekaligus kedukaan yang mendalam. Kebanggan mereka adalah ketika mereka melihat nama anak-anak mereka terpampang di surat kabar atau pada saat hari pengumuman SPMB. Kedukaan mereka adalah ketika mendengar nama ospek. Ya, Ospek. Kata yang terdiri dari lima huruf ini tak jarang membuat ciut nyali. Ospek merupakan momok yang menakutkan yang kadang-kadang mengundang air mata, meminta darah, cacat fisik, dan tak jarang meminta nyawa tiap tahunnya sebagai tumbal egoisme senior. Anehnya lagi, seolah-olah peristiwa tersebut direstui pikiran dan hati nurani kita yang turut ambil bagian maupun yang memberi lampu hijau bagi terlaksananya ritual tersebut. Adakah hati kita bergetar melihat penindasan di depan mata kita. Maka kalau memang hati kita sudah seperti batu yang kokoh, lalu apa bedanya kita dengan binatang ?, atau bahkan lebih rendah daripada binatang. Mungkin kalimat tersebut tidak berlebihan karena mengingat manusia dibekali akal dan perasaan untuk memancarka nilai-nilai kemanusiaan di sekeliling kita. Bukankah tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini untuk menjadi khalifah?, dengan tujuan membumikan nilai-nilai ketuhanan. Kenapa kita tidak mencoba menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap aktivitas kita.

Kampus (katanya) merupakan tempat ilmiah, kini berubah menjadi pusat ‘berhala-berhala’ baru, dimana manusia yang ada di dalamnya cenderung ingin mempertontonkan dirinya sebagai Tuhan. Dalam kaitannya dengan ritual tahuanan ini kita akan dingatkan tentang dongeng Lucifer. Ya!, Lucifer sang malikat jahat yang diusir dari surga, kemudian menjadi manusia yang berperawakan tampan dan gagah diatas muka bumi ini yang setiap saat sangat haus akan darah. Mungkin seperti itulah kita sekarang ini. Di Unhas sendiri sejak berdirinya sampai sekarang, entah sudah berapa banyak darah, air mata, cacat fisik, dan nyawa yang dipersembahakan untuk memuja roh egoisme dalam ritual tahunan tersebut. Para orang tua Maba harus menelan ludah ketika anaknya menyodorkan daftar perlengkapan ospek yang mirip dengan daftar menu yang ada di hotel-hotel mewah. Ditambah lagi dana kelembagaan, yang bila semuanya dijumlahkan bisa melampaui uang pendidikan selama satu semester. Ingat kawan, Orang yang menginjakan kakinya (baca: kuliah) di Unhas ini bukanlah orang-orang dari golongan menengah ke atas saja. Ada beragam golongan yang kuliah di Unhas ini dan dengan berbagai latar belakang ekonomi yang beragam pula. Ada yang ekonominya menengah ke atas, kelas menegah dan kelas menengah ke bawah, mungkin aku masuk golongan yang terakhir ini. Bagi golongan menengah atas, uang sebesar ratusan ribu mungkin hanyalah jumlah nominal tagihan telepon mereka tiap bulan. Akan tetapi bagi golongan menengah ke bawah, jumlah nominal tersebut harus dengan bercucuran keringat atau pontang-panting meminjam ke tetangga. Kalupun kedua alternatif tersebut sudah tidak mungkin, mungkin jalan terakhir adalah meminjam pada rentenir dengan tawaran bunga yang tinggi yang kian hari kian membengkak.

Mereka harus rela menunggu anaknya di gerbang-gerbang fakultas hanya untuk menantikan detik-detik terakhir episode pembantaian tersebut. Mereka tidak pernah bermimpi bahwa sesampainya anak-anak mereka di pintu gerbang kampus, kemerdekaan mereka direnggut, darah mengalir, pulang dengan cacat pada bagian tubuh ataupun nyawa melayang. Toh mereka tetap tabah, hanya air matalah yang menjadi luapan emosi mereka. Dimana nurani kemanusiaan kita?. Apakah untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis dan tercerahkan harus dengan kekerasan?. Tidak. Sekedar catatan, bahwa kekerasan tidak akan pernah membentuk pribadi yang militant, kritis dan tercerahkan akan tetapi justru akan membentuk karakter preman di kalangan mahasiswa baru serta melahirkan penindas-penindas baru dalam kampus ini. Sepertinya hal ini akan menjadi rantai setan yang sangat sulit diputuskan jika nuansa kekerasan masih mewarnai di setiap prosesi penyambutan mahasiswa baru. Ingat!, untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis, dan tercerahkan tidak cukup dalam waktu hitungan hari akan tetapi butuh waktu dan proses yang lama.

Bagi orang tua Maba, ketika menyaksikan anaknya menjadi mahasiswa setidaknya memberi sedikit harapan atas mimpi-mimpi mereka tentang masa depan anaknya. Ospek yang memang sudah masuk dalam ‘buku hitam’ orang tua Mahasiswa Baru, bahkan sudah menjadi catatan kebencian bagi mereka. Seandaianya mereka diminta untuk menulisnya, maka Ia akan menuliskannya pada lembaran pertama buku hitamnya dengan menggunakan tinta berwarna “ sedih dan prihatin”.

Tindakan yang yang tidak sepantasnya dilakukan oleh sosok yang berlebel mahasiswa (Penidasan,pemerasan bahkan sampai pada pelecehan……???). Mahasiswa ! ya mahasiswa, konon kabarnya kelompok The middle Class yang satu ini mengkalaim dirinya sebagai kelompok yang anti penidasan, kelompok yang mewakili orang-orang tertindas, kelompok yang mewakili suara rakyat. Saya sangat ngeri ketika saya mengklaim diri saya sebagai orang yang anti penindasan lewat sumpah mahasiswa. Sumpah yang diucapakan secara lisan dan tidak pernah dimaknai itu, hanyalah formalitas atau ritual belaka ketika seseorang pertama kali memakai baju kebesarannya yang di depannya bertuliskan mahasiswa dan dengan dada membusung, kita tampil sebagai hero kesiangan. Saya takut nanti kita (baca: Mahasiswa) di cap sebagai ‘maling’, maksud saya maling teriak maling. Di satu sisi kita benci yang namanya penindasan dan kroni-kroninya, akan tetapi di lain pihak kita sendirilah yang mempeloporinya. Bahkan kita mengabadikannya dalam sebuah sumpah, Sumpah Mahasiswa. Ya…! Sumpah Mahasiswa yang sudah mulai mengalami distorsi makna dan esensinya ini. Adalah bukan hal yang tidak mungkin ketika dua puluh tahun atau tiga puluh tahun yang akan datang sumpah mahasiswa tidak dibutuhkan lagi, baik dari segi makna mapun dari esensi. Atau mungkin sebaiknya diganti dengan sumpah binatang, [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa binatang], [Kami mahasiswa Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air penindasan] [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa kekerasan]. Wallahualambishawaab.

Entry filed under: Kampus. Tags: .

Malu Aku Bicara Komitmen Syndroma of Literer (Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Agustus 2006
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: