Makna Wudhu (Silahkan diCopy Paste dengan mencantumkan nama penulisnya)

Juli 24, 2006 at 9:53 am Tinggalkan komentar

Ditulis Oleh: M. Luqman Hakim
dikirim oleh
Rosalina

Wudlu' kita sehari-hari, ternyata tidak sekadar
membasuh muka, tangan, kepala, telinga maupun kaki.
Wudlu’ diposisikan sebagai amaliah yang benar-benar
menghantar kita semua, untuk hidup dan bangkit dari
kegelapan jiwa. Dalam Wudlu'lah segala masalah dunia
hingga akhirat disucikan, diselesaikan dan
dibangkitkan kembali menjadi hamba-hamba yang siap
menghadap kepada Allah SWT.

Bahkan dari titik-titik gerakan dan posisi yang
dibasuh air, ada titik-titik sentral kehambaan yang
luar biasa. Itulah, mengapa para Sufi senantiasa
memiliki Wudlu' secara abadi, menjaganya dalam kondisi
dan situasi apa pun, ketika mereka batal Wudlu,
langsung mengambil Wudlu seketika.
Mari kita buka jendela hati kita. Disana ada ayat
Allah, khusus mengenai Wudlu.

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau hendak
mendirikan sholat, maka basuhlah wajahmu dan kedua
tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah pada kepalamu
dan kaki-kakimu sampai kedua mata kaki…"
Manusia yang mengaku beriman, apabila hendak bangkit
menuju Allah ia harus berwudlu' jiwanya. Ia bangkit
dari kealpaan demi kealpaan, bangkit dari kegelapan
demi kegelapan, bangkit dari lorong-lorong sempit
duniawi dan mimpi di tidur panjang hawa nafsunya.

Ia harus bangkit dan hadlir di hadapan Allah, memasuki
"Sholat" hakikat dalam munajat demi munajat, sampai ia
berhadapan dan menghadap Allah.

Sebelum membasuh muka, kita mencuci tangan-tangan kita
sembari bermunajat:
Ya Allah, kami mohon anugerah dan barokah, dan kami
berlindung kepadaMu dari keburukan dan kehancuran.

Lalu kita masukkan air untuk kumur-kumur di mulut
kita. Mulut kita adalah alat dari mulut hati kita.
Mulut kita banyak kotoran kata-kata, banyak
ucapan-ucapan berbusakan hawa nafsu dan syahwat kita,
lalu mulut kita adalah mulut syetan.

Mulut kita lebih banyak menjadi lobang besar bagi
lorong-lorong yang beronggakan semesta duniawi. Yang
keluar dan masuknya hanyalah hembusan panasnya nafsu
dan dinginnya hati yang membeku.
Betapa banyak dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, betapa
berlimpah ruahnya fatwa amar ma'ruf nahi mungkar,
tetapi karena keluar dari mulut yang kotor, hanyalah
berbau anyir dalam sengak hidung jiwa kita. Karena
yang mendorong amar ma'ruf nahi mungkarnya bukan
Alllah, tetapi hasrat hawa nafsunya, lalu ketika
keluar dari jendela bibirnya, kata-kata indah hanyalah
bau anyir najis dalam hatinya.

Sesungguhnya mulut-mulut itu sudah membisu, karena
yang berkata adalah hawa nafsu. Ayo, kita masuki air
Ilahiyah agar kita berkumur setiap waktu.
Bermunajatlah ketika anda berkumur:
Oh, Tuhan, masukkanlah padaku tempat masuk yang benar,
dan keluarkanlah diriku di tempat keluar yang benar,
dan jadikanlah diriku dari DiriMu, bahwa Engkau adalah
Kuasa Yang Menolongku.

Oh Tuhan, tolonglah daku untuk selalu membaca KitabMu
dan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan tetapkanlah
aku dengan ucapan yang tegas di dunia maupun di
akhirat.

Baru kemudian kita masukkan air suci yang menyucikan
itu, pada hidung kita. Hidung yang suka mencium aroma
wewangian syahwat dunia, lalu jauh dari aroma syurga.
Hidung yang menafaskan ciuman mesra, tetapi
tersirnakan dari kemesraan ciuman hakiki di
SinggasanaNya.
Oh, Tuhan, aromakan wewangian syurgaMu dan Engkau
melimpahkan ridloMu…

Semburkan air itu dari hidungmu, sembari munajatkan
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari aroma busuknya
neraka, dan bau busuknya dunia.

Selanjutnya:
"Basuhlah wajah-wajahmu…"

Dengan menyucikan hatimu dengan air pengetahuan yang
manfaat yang suci dan menyucikan, baik itu bersifat
pengetahuan syariat, maupun pengetahuan hakikat, serta
pengetahuan yang bisa menghapus seluruh
penghalang-penghalang, hijab, antara dirinya dan
Allah.
Faktanya setiap hari kita Wudlu' membasuh muka kita,
tetapi wajah-wajah kita tidak hadir menghadap Allah,
tidak "Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah…"
(kemana pun engkau menghadap, wajah hatimu menghadap
arah Allah).
Kenapa wajah dunia, wajah makhluk, wajah-wajah
kepentingan nafsu kita, wajah-wajah semesta, wajah
dunia dan akhirat, masih terus menghalangi tatapmuka
hati anda kepada Allah Ta'ala? Ini semua karena
kebatilan demi kebatilan, baik kebatilan dibalik wajah
batil maupun kebatilan dengan selimut wajah kebenaran,
telah membatalkan wudlu jiwa kita, dan sama sekali
tidak kita sucikan dengan air pengetahuan
ma'rifatullah dan pengetahuan yang menyelamatkan dunia
akhirat kita.

Hijab-hijab yang menutupi wajah jiwa kita untuk
melihat Allah, sudah terlalu tua untuk menjadi topeng
hidup kita. Kita bertopeng kebusukan, bertopeng
rekayasa, bertopeng kedudukan dan ambisi kita,
bertopeng fasilitas duniawi kita, bertopeng hawa nafsu
kita sendiri, bahkan bertopeng ilmu pengetahuan kita
serta imajinasi-imajinasi kita atau jubah-jubah agama
sekali pun.
Lalu wajah kita bopeng, wajah ummat kita penuh dengan
cakar-cakar nafsu kita, torehan-torehan noda kita,
flek-flek hitam nafsu kita, dan alangkah bangganya
kita dengan wajah-wajah kita yang dijadikan landskap
syetan, yang begitu bebas menarikan tangan-tangannya
untuk melukis hati kita dengan tinta hitam yang
dipanggang di atas jahanam.
Karena wajah kita lebih senang berpaling, berselingkuh
dengan dunia, berpesta dalam mabuk syetan, bergincu
dunia, berparas dengan olesan-olesan kesemuan hidup,
lalu memakai cadar-cadar hitam kegelapan semesta
kemakhlukan.

Banyak orang yang mata kepalanya terbuka, tetapi
matahatinya tertutup. Banyak orang yang mata kepalanya
tertutup, matahatinya terbuka. Banyak orang yang
matahatinya terbuka tetapi bertabur debu-debu
kemunafikan duniawinya. Banyak orang yang sudah tidak
lagi membuka matahatinya, dan ia kehilangan Cahaya
Ilahi, lalu menikmati kepejaman matahatinya dalam
kegelapan, yang menyangka ia dalam kebenaran dan
kenikmatan.

Oh, Allah, bersihkan wajahkku dengan cahayaMu,
sebagaimana di hari Engkau putihkan wajah-wajah
KekasihMu. Ya Allah janganlah Engkau hitamkan wajahku
dengan kegelapanMu, di hari, dimana Engkau gelapkan
wajah-wajah musuhMu.

Tuhan, sibakkan cadar hitamku dari tirai yang
membugkus hatiku untuk memandangMu, sebagaimana Engkau
buka cadar para KekasihMu…

"Dan basuhlah kedua tanganmu sampai kedua
siku-sikumu…"

Lalu kita basuh kedua tangan kita yang sering
menggapai hasrat nafsu syahwat kita, berkiprah di
lembah kotor dan najis jiwa kita, sampai pada tahap
siku-siku hakikat kita dan manfaat agung yang ada di
sana.
Tangan kita telah mencuri hati kita, lalu ruang jiwa
kita kehilangan khazanah hakikat Cahaya hati. Tangan
nafsu kita telah mengkorupsi amanah-amanah Ilahi dalam
jiwa, lalu kita mendapatkan pundi-pundi duniawi penuh
kealpaan dan kemunafikan.

Tangan-tangan kita telah merampas makanan-makanan
kefakiran kita, kebutuhan hati kita, memaksa dan
memperkosa hati kita untuk dijadikan tunggangan liar
nafsu kita. Tangan-tangan kita telah memukul dan
menampar wajah hati yang menghadap Allah, menuding
muka-muka jiwa yang menghadap Allah, merobek-robek
pakaian pengantin yang bermahkotakan riasan indah para
Sufi.

Maka basuhlah tanganmu dengan air kecintaan, dengan
beningnya cermin ma'rifat, dari mata air dari bengawan
syurga.
Basuhlah tangan kananmu, sembari munajat:
Oh, Allah..berikanlah Kitabku melalui tangan kananku,
dan hitanglah amalku dengan hitungan yang
seringan-ringannya.

Basuhlah tangan kririmu dengan munajat:
Oh, Allah, aku berlindung kepadaMu, dari pemberian
kitabku dari tangan kiriku atau dari belakang
punggungku…

Lalu, mari kita usap kepala kita:
Karena kepala kita telah bertabur debu-debu yang
mengotori hati kita, memaksa hati kita mengikuti
selera pikiran kira, sampai hati kita bukan lagi
menghadap kepadaNya, tetapi menghadap seperti cara
menghadap wajah di kepala kita, yaitu menghadap dunia
yang hina dan rendah ini.

Pada kepala kita yang sering menunduk pada dunia, pada
wujud semesta, tunduk dalam pemberhalaan dan
perbudakan makhluk, tanpa hati kita menunduk kepada
Allah Ta'ala, kepada Asma-asmaNya yang tersembunyi
dibalik semesta lahir dan batin kita, lalu kepala kita
memalingkan wajah hati kita untuk berpindah ke lain
wajah hati yang hakiki.

Mari kita usap dengan air Cahaya, agar wajah hati kita
bersinar kembali, tidak menghadap ke arah
remang-remang yang menuju gelap yang berlapis gulita,
tidak lagi menengok pada rimba duniawi yang dipenuhi
kebuasan dan liar kebinatangannya.
Kepala-kepala kita sering menunduk pada
berhala-berhala yang mengitari hati kita. Padahal hati
kita adalah Baitullah, Rumah Ilahi. Betapa kita sangat
tidak beradab dan bahkan membangun kemusyrikan,
mengatasnamakan Rumah Tuhan, tetapi demi kepentingan
berhala-berhala yang kita bangun dari tonggak-tonggak
nafsu kita, lalu kita sembah dengan ritual-ritual
syetan, imajinasi-imajinasi, kebanggaan-kebanggan,
lalu begitu sombongnya kepala kita terangkat dan
mendongak.

Mari kita usap kepala kita dengan usapan Kasih Sayang
Ilahi. Karena kepala kita telah terpanggang panasnya
neraka duniawi, terpanaskan oleh ambisi amarah dan
emosi nafsu syahwati, terjemur di hamparan mahsyar
duniawi.
Sembari kita mengusap, masti munajat:
Oh Allah, payungi kepalaku dengan Payung RahmatMu,
turunkan padaku berkah-berkahMu, dan lindungi diriku
dengan perlindungan payung ArasyMu, dihari ketika
tidak ada lagi paying kecuali payungMu. Oh,
Tuhan….jauhkan rambutku dan kulitku dari neraka…Oh…

Usap kedua telingamu. Telinga yang sering mendengarkan
paraunya dunia, yang anda kira sebagai kemerduan musik
para bidadari syurga. Telinga yang berbisik kebusukan
dan kedustaan, telinga yang menikmati gunjingan demi
gunjingan. Telinga yang fantastik dengan mendengarkan
indahnya musik duniawi, lalu menutup telinga ketika
suara-suara kebenaran bersautan. Amboi, kenapa
telingamu seperti telinga orang-orang munafik?
Apakah anda lebih senang menjadi orang-orang yang tuli
telinga hatinya?

Munajatlah:
Oh Tuhan, jadikan diriku tergolong orang-orang yang
mendengarkan ucapan yang benar dan mengikuti yang
paling baik. Tuhan, perdengarkan telingaku
panggilan-panggilan syurga di dalam syurga bersama
hamba-hambaMu yang baik.

Lalu usaplah tengkukmu, sembari berdoa:
Ya Allah, bebaskan diriku dari belenggu neraka, dan
aku berlindung kepadaMu dari belenggu demi belenggu
yang merantai diriku.

Lalu basuh kaki-kakimu sampai kedua mata kaki:

Kaki-kaki yang melangkahkan pijakannya kea lam dunia
semesta, yang berlari mengejar syahwat dan kehinaan,
yang bergegas dalam pijakan kenikmatan dan kelezatan
pesonanya.
Kaki-kaki yang sering terpeleset ke jurang kemunafikan
dan kezaliman, terluka oleh syahwat dan emosinya, oleh
dendam, iri dan dengkinya, haruslah segera dibasuh
dengan air akhlaq, air yang berumber dari adab, dan
bermuara ke samudera Ilahiyah.

Basuhlah kedua kakimu sampai kedua matakakimu. Agar
langkah-langkahmu menjadi semangat baru untuk bangkit
menuju Allah, menapak tilas Jalan Allah, secepat kilat
melesat menuju Allah. Basuhlah dengan air salsabila,
yang mengaliri wajah semesta menjadi jalan lurus
lempang menuju Tuhan.
Selebihnya, Wudlu’ adalah Taubat, penyucian jiwa,
pembersihan batin, di lembah Istighfar. Jangan lupakan
Istighfar setiap basuhan anggota wudlu’mu.
Wallahu A'lam.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Sepak Bola, Kadang Mengundang Air mata (Catatan Pertandingan Jerman Vs Italia) Rasa itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Juli 2006
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: