Jerman “Tak Terkalahkan”, Argentina, don’t Cry!

Juli 1, 2006 at 2:23 pm 1 komentar

Oleh Aryanto Abidin
Penulis adalah Peminat dan Penikmat Bola serta Pendukung Jerman

Stadion Olimpic Berlin menjadi saksi sejarah atas keperkasaan tim Panser Kali ini babak Perempat final (Sabtu 30/06/06 pukul 22 WIB), Jerman menekuk salah satu favorit tim juara piala dunia 2006, Argentina. Jerman dan Argentina selama 90 menit bermain imbang dengan skor 1-1. Setelah perpanjangan waktu selama 2×15 menit, kedudukan tetap berimbang 1-1. Wasit yang memipin pertandinganpun meniup peluit panjang, pertanda perpanjangan waktu 30 menit telah usai. Jerman dan Argentina harus ngotot dalam adu pinalti. Sayang, Argentina harus menelan pil pahit, Jerman terlalu cerdas untuk persoalan tendangan pinalti. Borowski menyarangkan gol keempat. Dengan demikian Jerman menang dengan skor 4-2.

Mental baja

Ketinggalan 1-0, tidak membuat anak-anak asuhan Jurgen Klinsmann patah semangat. Tim yang dipimpin oleh Michael Ballack ini justru bermain ngotot. Selama pertandingan babak pertama, Jerman dan Argentina bermain tanpa gol hingga turun minum. Setelah memasuki babak kedua, Argentina tampil agresif. Di menit-menit awal babak kedua, Argentina lebih dulu menyarangkan si kulit bundar ke gawang Lehman lewat tendangan pojok Requelme. Tendangan pojok tersebut diselesaikan dengan indah oleh pemain asal club Valencia Roberto Ayala, tepat pada menit ke-49, yang naik membantu Crespo. Ayala lepas dari pengawalan ketat pemain belakang Jerman yang justru mengawal ketat striker mematikan asal club Chelsea, Hernan Crespo. Jerman tertipu!. Pemain belakang Jerman Philip Lahm, Per Mertesacker, Cristoph Metzelder dan Arne Friedrich gagal menghalau gerakan Ayala yang sangat lihai.

Kebobolan satu gol, tidak lantas membuat Ballack dan teman-temannya larut dalam beban kekalahan. Bagi tim Jerman, selama peluit panjang belum berbunyi, maka tidak ada alasan bagi jerman untuk berhenti menyerang atau bermain bertahan jika dalam kondisi unggul. Layaknya singa yang terluka, jerman tampil dengan permainan yang sangat cepat dan pola serangan balik yang cukup merepotkan barisan pertahanan Argtentina. Bagi Klinsmann, tertinggal satu gol, membuatnya harus memasukan gelandang pendobrak Odonkor. Hal ini dimaksudkan guna mendobrak pertahanan rapat Argentina yang dikawal Juan Sorin. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Jerman. Namun tak satupun gol tercipta. Ujung tombak Jerman Miroslav Klose dan Lukas Podolski tidak bisa berbuat banyak ketika berhadapan dengan barisan pertahan Argentina yang dikawal oleh Juan Sorin dkk. Juan Sorin, Roberto Ayala, Leandro Cufre dan Gabriele Heinze terlalu tangguh untuk dilewati oleh Klose dan Podolski.

Sadar bahwa permainan kaki sulit menembus pertahanan Argentina yang sangat rapat dan disiplin, maka Ballack pun memutar otak untuk menembus pertahanan Argentina. Sebelumnya, berkat kecerdikan Klinsmann yang menarik Bastian Schweinsteiger dan menggantikannya dengan Tim Borowski. Borowski turut andil atas lahirnya gol jerman oleh Klose. Seperti diketahui, Gol-gol yang diciptakan oleh anak asuhan Klinsmann selalu dibangun lewat sayap kiri lapangan. Sang pengatur serangan (playmaker), Ballack mulai membangun serangan dari sayap kiri lapangan. Umpan lambung Ballack disambut dengan kepala oleh Tim Browski untuk kemudian diumpan ke Klose. Duet kepala Borowski dan Klose ini mampu diselesaikan dengan indah lewat “kepala maut” sang maestro gol Jerman. Miroslav Klose. Jerman menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-80. Meskipun kedudukan berimbang kedua tim tetap bermain ngotot ntuk saling mengugguli. (baca juga kLinkLinkhttp://www.kompas.co.idompas)

Jerman dan Argentina saling menyerang. Sayang Usaha kedua tim untuk saling mengungguli dalam waktu 90 menit tidak membuahka hasil. Hingga akhirnya kedua tim harus memainkan permainan pada babak pertambahan waktu 2 x 15 menit. Lagi-lagi kedua tim tidak mampu memecahkan kebuntuan akibat skor imbang 1-1. Wasit pun meniup peluit panjang pertanda permainan perpanjangan waktu 30 menit telah usai. Jerman dan Argentina akhirnya harus adu pinalti untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara keduanya. Jerman akhirnya memecah kebuntuan atas skor imbang 1-1 melalui adu pinalti dengan skor kemenangan Jerman 4-2. Jerman Menang lagi!. Jerman akan berhadapan dengan si “kunci grendel” Italia, yang berhasil menaklukan Ukraina 3-0 pada sabtu dini hari tadi.

Tak Terkalahkan

Piala dunia kali ini (2006), boleh jadi merupakan piala dunia yang tidak pernah terlupakan oleh publik dan penikmat sepak bola Jerman. Penampilan Jerman yang tidak pernah kalah dari tim lain selama pertandingan penyisihan hingga delapan besar, membuat publik jerman menyaksikan sendiri ketangguhan Tim kesayangannya. Sepanjang sejarah piala dunia, Jerman selalu kalah lebih awal atau bermain seri. Namun pada piala dunia kali ini, Jerman betul-betul tampil menawan. Jerman tak terkalahkan sejak babak penyisihan grup hingga menyingkirkan Argentina di babak delapan besar.

Penampilan menawan anak-anak asuhan Klinsmann, mampu membangkitkan kepercayaan publik atas pelatih Klinsmann. Klinsmann yang sebelumnya banyak diserang oleh pers Jerman, lantaran menjadi pelatih tidak pernah memiliki pengalaman melatih. Michael Ballack dkk, mampu membawa Jerman menggapai tangga Semifinal. Kemenangan berturut-turut Jerman sejak babak penyisihan grup hingga babak delapan besar, membuat Jerman yakin akan mampu merebut kembali gelar juara dunia untuk keempat kalinya. Sejak pertandingan pembuka piala dunia tanggal 9 Juni lalu, Jerman membuktikan diri sebagai yang terbaik. Jerman mengalahkan Kostarika dengan skor 4-2. Dengan penampilan cemerlang ini, sekaligus memberikan isyarat bagi tim lain akan keperkasaan Jerman. Laga awal ini sekaligus mencatatkan permainan kedua tim sebagai laga gol terbanyak pada partai pembuka piala dunia yakni 6 gol sepanjang piala dunia sejak tahun 1930.

Di partai penyisihan grup A, setelah melumat Kosta Rika dengan skor 4-2, jerman menaklukan Polandia dengan skor tipis 1-0. Pada pertandingan ketiga babak penyisihan grup melawan Ekuador, Jerman kembali menampakan dirinya sebagai tim yang bermental juara Jerman menekuk Ekuador dengan skor telak, 3-0 untuk kemenangan Jerman. Jerman melaju ke babak enambelas besar dengan menyandang gelar juara grup A. Pada babak enambelas besar ini, jerman meladeni runner up grup B Swedia. Pertandingan melawan Swedia adalah pertarungan hidup mati bagi Jerman. Jerman harus mengalahkan Swedia jika tidak ingin tersingkir lebih awal. Ballack pun menunjukan kematangan timnya dengan menekuk Swedia, 2-0 untuk kemenangan Jerman. Mengalahkan Swedia di babak enambelas besar membuat Jerman terus melaju ke babak delapan besar. Di babak delapan besar inlah Jerman menundukan Argentina lewat adu pinalti dengan skor 4-2. Sekedar diketahui, bahwa Jerman memiliki sejarah tidak pernah terkalahkan dalam hal adu pinalti. Pemain Jerman memiliki kemampuan eksekusi yang baik ketika harus adu pinalti. Sekali lagi, Jerman tak terkalahkan untuk persoalan adu pinalti.

Kekalahan Menyakitkan

Kekalahan menyakitkan!. Mungkin inilah kata yang patut kita lontarkan atas kekalahan tim Argentina dari tim Panser Jerman. Betapa tidak, pertandingan yang layak kita sebut sebagai pertandingan laga final ini, didominasi oleh Argentina. Bahkan Argentina lebih dulu menyarangkan bola ke gawang Jerman yang dijaga oleh Jens Lehman. Unggul satu gol membuat pelatih Argentina Jose Pakerman (56) sesumbar. Lewat keputusan kontroversial dengan mengganti gelandang menyerang Juan Roman Requelmi dengan dengan penyerang muda Cruz. Tidak sampai di situ, Pakerman mengambil keputusan yang tidak populis yakni dengan mengganti Hernan Crespo dengan Esteban Cambiasso. Padahal Hernan Crespo dan Requelme merupakan pilar penyerang Argentina guna menambah pundit golnya. Inilah awal kekalahan Argtentina. Jerman yang sebelumnya juga sudah diperkuat gelandang menyerang Odonkor menggantikan Bastian Schweinsteiger membuat serangan Jerman lebih hidup. Jermanpun menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-80.

Kekalahan ini sekaligus menguburkan ambisi Argentina untuk membalas dendam atas kekalahan yang menyakitkan 1-0 lewat hadiah pinalti di Roma Italia pada tahun 1990. Waktu itu Jerman dan Argentina sama-sama maju di babak Final. Pada waktu itu, bagi Jerman pertandingan Final tahun 1990 di Italia merupakan pertandingan balas dendam atas kekalahan mereka di Piala dunia di Mexico tahun 1986 dengan skor 3-2 untuk kemenangan Argentina. Pada piala dunia 1990, Jerman (pada waktu itu Jerman Barat) mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 untuk kemenangan Jerman. Jerman pun membawa pulang gelar juara dunia untuk ketiga kalinya. Saat itu, Jurgen Klinsmann sebagai kapten keseblasan Jerman. Bermodalkan keberhasilannya itulah Ia ditunjuk oleh federasi sepak bola Jerman sebagai pelatih tim nasional Jerman sejak tahun 2004 lalu.

Don’t Cry, Argentina!

Kekalahan memang menyakitkan. Apalagi untuk tim besar seperti Argentina. Negara yang rata-rata memiliki pemain yang mempunyai bakat alam bermain bola itu, harus takluk di tangan Jerman yang baru belakangan mengenal sepak bola lewat text book. Kekalahan Argentina membuat supporter dan publik Argentina berderai air mata. Bahkan di akhir pertandingan, beban psikologis tidak bisa ditepis oleh anak asuhan Jose Pakerman. Pemain Argentina menyerang official tim Jerman. Peristiwa itu dipicu oleh ketidak mampiuan mereka menerima kekalahan. Apapaun hasilnya, ini adalah sebuah permainan. Kalah menang hanyalah konsekwensi dari setiap pertandingan. Tentu kita berharap Argentina bersikap jantan. Semoga public Argentina tidak menangisi timnya seperti mereka menangisi kematian presiden wanita mereka yang dekat dengan rakyatnya, Evita Peron. Kita tidak ingin roh Evita Peron bangkit lagi, untuk kemudian mengatakan: “Don’t cry for me Argentina”. Untuk itu, buat pendukung Argentina, (sekali lagi) ini hanyalah permainan. So, don’t cry, Argentina!. Its just a game, you now!.

Entry filed under: Sports. Tags: .

Jerman Tampil Sangar, Kosta Rika Ngotot Klinsmann dan Kontroversi Sepak Bola Jerman

1 Komentar Add your own

  • 1. l0pe-mizz-ya  |  Juli 3, 2006 pukul 1:08 am

    assalamu’alaikum… hai kunjungan balik.. salam perkenalan dari lope ^_^… gi demam bola juga yah hehehhe… hiks argen kalah :(( brasil juga :((.. hiks hiks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Juli 2006
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: