Menulis itu "Sexy" (Obat Kuat untuk Calon Manusia Indonesia Seutuhnya)

Juni 4, 2006 at 9:50 am 9 komentar

Jika kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah

[………….]

Bila mulut dibungkam, maka pena harus bicara

[Semboyan wartawan]


Kalau pada saya ditanya, hal apakah yang tidak disukai?, maka saya dengan tegas akan menjawab: membaca. Lalu apalagi? Maka saya akan menjawab lagi: menulis. Sebegitu parahkah saya? Atau mungkin juga anda. Oh…!, tunggu dulu. Itu dulu, waktu saya masih anak sekolahan. Sejak SMP dan SMA, saya paling tidak suka yang namanya mengarang. Tapi karna tuntutan nilai, maka sayapun ”terpaksa” atau lebih tepatnya pura-pura suka terhadap mata pelajaran mengarang. Sebab, kalu tidak, maka nilai bahasa Indonesia saya akan berpengaruh. Bisa-bisa terancam nilai merah. Dalam setiap ujian, mengarang memiliki bobot nilai yang paling tinggi. Namun anehnya, ketika saya memulai mengarang, kata-kata dalam pikiran saya begitu mengalir di atas krtas ujian. Bahkan tak jarang saya harus meminta tambahan kertas ujian.

Semenjak masih sekolahan, saya adalah orang yang sangat jarang sekali membaca, apalagi membaca buku-buku sastra (novel, cerpen dan puisi). Bagi saya, buku-buku tersebut adalah karya picisan. Saya lebih suka terhadap mata pelajaran yang sifatnya analitik. Kini, semuanya telah berubah. Saya begitu suka dengan menulis dan kagum terhadap orang-orang yang suka menulis. Apalagi tulisannya dimuat di koran-koran. Nah, mungkin tulisan ini setidaknya mengajak anda untuk sedikit mencintai tentang dunia kepenulisan. Apa dan bagaimana sih menulis itu? Sulitkah menulis itu? Dan kenapa sih kita harus menulis?. Jawabannya sederhana, pelototi trus tulisan ini hingga lembaran terakhir. Ditanggung nggak rugi kok.

Kenapa harus menulis?

Scripta manent, verba volant. Kurang lebih berarti: yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin. Itulah ungkapan seorang filosof yang namanya telah hilang dari memori otak saya. Bukan karena sengaja saya melupakannya, tetapi mungkin saja otak saya lagi hang (Maklum pentium jaman onta). Setidaknya kalimat inilah yan memotivasi saya untuk menggerakan jari jemari saya di atas papan keyboard komputer, sekedar berceloteh tentang keresahan. Maka tidak heran seorang penulis buku best seller Berani Gagal, Billi PS Linn, mengatakan bahwa Ia tidak ingin mati begitu saja. Kemudian menjadi jasad organik setelah ditanamkan dalam tanah, tanpa mewariskan sesuatu. Dan warisan itu adalah karya tulis. Maka lahirlah buku dahsyat yang berjudul (sekali lagi) Berani Gagal, yang diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.

Suatu waktu teman saya pernah mengatakan, juka kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah. Kalimat tersebut seolah tak mau lepas dari ingatan saya. Saya berusaha ubtuk belajar menulis. Layaknya anak kecil yang baru belajar berjalan; jatuh dan jatuh, lalu bangun lagi.

Kenapa harus menulis? Buat apa menulis?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini akan memburu kita tatkala sedang memulai menulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah menjadi pembenaran akan ketidak mampuan kita untuk menuangkan ide dan pikiran kita dalam bentuk tulisan. Ada beberapa hal yang mengharuskan kita kenapa harus menulis. Pertama, menulis adalah tradisi intelektual. Sebagai mahasiswa maka menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah cara yang ampuh untuk melatih kembali daya ingat kita. Alangkah sia-sianya kita yang setiap hari berkutat dengan berbagai macam teori, dari teori A sampai teori Z, kemudian tidak mampu menumpahkan kembali dalam bentuk tulisan. Ilmu itu ibarat binatang buruan, membaca adalah senjatanya dan menulis adalah pengikatnya, demikian kata para ulama.

Kedua, menulis itu membebaskan. Tak sdikit orang yang menumpahkan masalah kesehariannya dengan menuliskannya dalam diary pribadi mereka. Hal tersebut mereka lakukan untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan. setelah itu mereka cukup tenang karena tlah menumpahkannya lewat tulisan. Tak jarang dari buku catatan harian mereka banyak diterbitkan oleh penerbit buku. Soe Hoek Gie misalnya, dengan bukunya yang diberi judul Catatan Harian Seorang Demonstran (CHSD). Buku ini menjadi literatur sejarah dan menjadi saksi atas kesuraman rejim orde lama. Pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan Al banna, dengan buku yang diberi judul Memoar Hasan Al banna dan Risalah Pergerakan. Buku tersebut menjadi inspirasi bagi jamaah Ikhwanul Muslimin untuk tetap berkomitmen terhadap islam. Bung Karno dengan karya monumentalnya Di Bawah Bendera Revolusi

Ketiga, menulis merupakan alat perlawanan. Sejarah banyak mencatat mereka yang melakukan perlawanan dengan bersenjatakan pena. Yusuf Qardhawi misalnya, karena dilarang berceramah lewat mimbar, maka Ia pun mengalihkan ceramahnya lewat tulisan, maka lahirlah karya monumentalnya Al Halal Wa Haram Fi Al Islam (Halal dan haram dalam Islam). Lain lagi dengan Muhammad Quthub. Ia melahirkan karya monumentalnya yang berjudul Fii Dhilalil Qur’an (Di bawah Naungan Al-Qur’an) di balik jeruji besi (penjara). Demikian juga almarhum Pramudiya Ananta Tour (PAT), buku-bukunya lebih banyak lahir di balik jeruji besi. Pada masa orde baru, buku-bukunya diharamkan beredar di indonesia. Namun tak sedikit anak-anak muda dan aktivis mahasiswa yang secara sembunyi-sembunyi membaca bukunya. Tan Malaka dengan Madilog nya (Matrialisme, Dialetika dan Logika) juga lahir dibalik jeruji besi (penjara).

Keempat, Manfaat benefit dan Profit. Tidak dapat dipungkiri, menulis memberikan manfaat yang sangat besar bagi si penulis. Manfaat tersebut adalah manfaat benfit atau ketenaran. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, seseorang yang tulisan-tulisannya dimuat di media cetak, baik secara langsung maupun tidak langsung membuat ia menjadi tenar atau tekenal. Di sisi lain manfaat profitpun juga diperoleh jika tulisan-tulisannya dimuat di media cetak. Atau penulis skenario yang menulis untuk sebuah cerita sinetron atau film. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Siapa yang menyangka buku-buku meka tesebut diterbitkan oleh penerbit? Bahkan sangat laku di pasaran. Soe Hok Gie (SHG) tidak pernah becita-cita untuk menerbitkan catatn hariannya menjadi sebuah buku. Bahkan ia tidak sempat menyaksikan catatan hariannya akan diterbitkan. Dia mati muda menjelang usia 27 tahun di gunung semeru. Mira Lesmana pun mem-filmkan buku CHSD dengan judul Gie. Pada saat itu juga sosok SHG menjadi akrab di telinga kita dan anak-anak muda serta mahasiswa angkatan 2000-an, lantaran SHG hadir dalam wajah tampan Nicholas Saputra. Padahal mereka seblumnya sangat lekat dengan budaya hedonisme yang menggerogoti mereka. Maka beruntunglah saya yang membaca SHSD semenjak masih mahasiswa baru, disaat anak-anak muda lainnya secara sembunyi-sembunyi membaca novel Fredy S. Belum menjadi mahasiswa kalau belum membaca CHSD, maka sayapun memburunya di tempat rental buku. Luar biasa, itulah kesan saya thadap CHSD. Asyi Sahid Hasan Al Banna pun demikian. Ia tidak pernah menyangka catatan hariannya akan di terbitkan dan dibukukan. Oleh murid-muridnya, catatan-catatan tersebut diberi judul Majmu’a Risalah (Risalah Pergerakan). Demiakian juga PAT, ia tidak pernah bepikir untuk menrbitkan tulisan-tuliannya. Tidak perlu risau tentang tulisan kita yang tidak ditbitkan, menulis saja, menulis apa yang kita rasakan, menulislah untuk diri kita sendiri. Demikian pernyataan PAT. Menulis memiliki arti penting bagi peadaban. Bayangkan! Apa jadinya seandainya ilmu pengetahuan tidak ditulis oleh para penemu-penemu teori.

Menulis adalah pekerjaan membaca

Sebahagian orang mensinyalir, menulis bebanding lurus dengan kegiatan membaca. Hal ini jelas menambah pebendaharaan kata bagi si pembaca. Bagaimana mungkin seorang yang ingin jadi penulis hebat tapi kurang berinteraksi dengan dunia kata (membaca). Padahal, untuk menjadi penulis diperlukan keahlian meilih dan memadu kata agar terangkai menjadi sebuah kalimat yang mudah dicerna. Jadi, menulis adalah kegiatan membaca. Bahkan dalam Al-Quran, ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT adalah ayat yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk membaca: iqra’.

AS Kambie dalam makalahnya yang disuguhkan pada diklat jurnalistik dasar VII tahun 2001 silam oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) (waktu itu saya sebagai peserta), mengatakan bahwa menulis itu ibarat orang belajar naik sepeda, bila terjatuh maka coba lagi. Hati-hati dalam menulis, bila penulis terjatuh, maka pembaca akan terluka. Oleh karena itu, perbaiki tulisan anda dengan banyak membaca. Karna membaca adalah prasyarat mutlak untuk menulis.

Mahasiswa, menulislah

Rasa-rasanya kurang sempurna bila seorang mahasiswa tidak mampu menuangkan ide dan pikiran cerdasnya lewat tulisan. Apalagi bagi yang mengaku aktivis mahasiswa. Sekuat apapun bacaan dan retorika (budaya oral), itu tidak kan berarti apa-apa. Kata-kata akan menguap begitu saja. Banyak aktivis mahasiswa yang jago bicara/retorika, bahkan bicara dengan basis data, namun gagal menuangkannya dalam bntuk tulisan. Pertanyaannya, mengapa tidak mencoba menulis? Padahal menulis tidak mengapa. Minimal di media kampus.

Mungkin budaya literer kita tidak dimulai sejak dini. Mungkin ada baiknya anak cucu kita nantinya, sesekali mereka diajarkan untuk meminta sesuatu dengan cara menuliskannya.Agar mereka lebih akrab dengan gaya literer. Bagaimana dengan anda ?. Siapkah anda menajamkan pena untuk menorehkan sejarah dalam kehidupan kita?.

Saya berharap setelah membaca tulisan ini, anda mengambil pena dan selmbar kertas, kemudian mengambil nafas panjang, lalu menuliskan kata-kata yang ada dari dalam hati anda. Boleh jadi dalam hitungan jam anda telah mahir menulis, atau dalam hitungan minggu, atau dalam hitungan bulan dan bahkan boleh jadi dalam hitungan tahun. Berbagai cobaan dan ”luka” akibat trjatuh dari anak tangga menulis, telah anda lewatkan. Lalu lahirlah sebuah karya dahsyat, dan anda terkejut. Lalu anda menyimpulkan, ternyata menulis tidak semudah membalikan telapak tangan. Mudah-mudahan saya tidak sedang menggurui anda. Semoga!. Wallahualmbishowaab.

Entry filed under: Tips menulis. Tags: .

Dialog Sunyi Jerman Tampil Sangar, Kosta Rika Ngotot

9 Komentar Add your own

  • 1. AL KIFAH  |  Juni 6, 2006 pukul 6:46 am

    Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran membaca masyarakat, sangatlah bijak apabila pelaku media kembali menggagas konsolidasi diantara mereka yang mengemban misi kebangkitan Islam. Semua ini dalam rangka memantapkan peran sehingga pesan-pesan Islami dapat tersampaikan melalui bahan bacaan yang tersebar di masyarakat.

    Sajian karya fiksi mapun non fiksi Islami, merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan -semenarik mungkin- pula agar dapat “melawan” arus karya sastra yang dapat menjauhkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai Islam.

    Namun, media juga sarat dengan kancah ‘persaingan’. Media sekuler pun terus bertebaran. Dengan demikian, pertarungan untuk memenangkan misi dakwah merupakan salah satu yang harus diprioritaskan.

    Sedangkan untuk unggul dalam pertarungan media tadi, dituntut suatu kompetensi profesional kerja agar outputnya dapat diterima masyarakat luas. Kompetensi itu tentu meliputi berbagai penguasaan terhadap prinsip dan strategi jurnalistik, berikut berbagai cabangnya. Akan tetapi, kompetensi ini harus didukung oleh sinergisitas antara para penulis maupun penerbit dalam rangka melayani masyarakat, sehingga dakwah bil-qolam kian berkembang seiring zaman.

    Nah, pertanyaanya, sudah bersinergiskah gerak langkah berbagai media Islami yang ada di sekitar kita selama ini? Mestinya, seluruh organisai media Islami (termasuk para bloger Muslim) bergerak secara simultan menuju pencerahan dan pencerdasan umat guna menyosong kebangkitan Islam yang dimaksud.

    Masalhnya, bagaimana ya cara menulis? Berbagi informasi donk, Akh!🙂

  • 2. buyus  |  Juni 12, 2006 pukul 1:06 am

    Waalaikumsalam warahmatullah
    Kunjungan balik…kok ga bisa ya ngisi di shoutbox antum…
    Tentang bikin “komen terbaru” buka aja blognya pak AgusHery (edittag), dah ada kan linknya…
    Btw, piala dunia jagoin apa??….

  • 3. Amy Amaliah  |  Juni 15, 2006 pukul 1:04 pm

    keren… keren…

    emang menulis tuh paling bagus utk meluapkan pikiran, klo mulut udh mo bungkamm…

    met kenal ya… thx 4 visiting my blog…

  • 4. Reza Muhammad  |  Mei 30, 2007 pukul 12:42 pm

    yang ngarang Fii Zhilaal al Qur’an itu Sayyid Quthb Rahimahullah, sedangkan Muhammad Quthb itu adalah adiknya. alaa kulli hal tulisan antum bagus.

  • 5. tovorinok  |  Juli 5, 2007 pukul 7:50 am

    Hello

    Great book. I just want to say what a fantastic thing you are doing! Good luck!

    G’night

  • 6. freedom  |  Desember 4, 2007 pukul 1:12 pm

    Memang banyak yang pergi
    Tidak sedikit yang lari
    Sebagian memilih diam bersembuyi
    Tapi… Perubahan adalah kepastian
    dan untuk itulah kami bertahan
    Sebab kami tak lagi punya pilihan
    Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

    Kawan… kami masih ada
    Masih bergerak
    Terus melawan!
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

  • 7. asis bujang  |  Februari 10, 2008 pukul 3:28 pm

    menulis memang menyenangakan, tapi terkadang mahasiswa nda mau nulis karena kurang wawasan dan masih malu-malu. mereka lebih milih bereriak di jalan. padahal dengan menulis bisa mempresur kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada mahasiswa dan masyarakat, ya… tapi tergantung juga pada isu atau wacana yang di angkat, thanks

  • 8. Reza Muhammad  |  Mei 5, 2008 pukul 12:54 pm

    akhii, ana sudah hijrah ke Palu, Sulawesi Tengah sejak juli 2007, kita sudah satu pulau nih. Ditunggu komentar antum di blog ana.

  • 9. Yang hilang di era informasi itu telah kembali | Welgedewelbeh  |  Desember 25, 2013 pukul 12:28 pm

    […] Terkait dengan kekuatan ini, bahkan sebuah buku mengatakan bahwa ngeblog bisa mengubah dunia. Toh telah begitu banyak orang baik yang secara ikhlas memberikan dorongan untuk menulis, terutama melalui […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Juni 2006
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: