Jangan Menangis Jogjaku

Juni 2, 2006 at 9:42 am Tinggalkan komentar

Bangsa indonesia tak henti-hentinya dirundung musibah. Entah sudah berapa kali bangsa ini dirundung musibah. Mungkin sudah tak terhitung jumlahnya. Bermacam-macam musibah menimpa bangsa ini. Dari tabrakan maut kereta api, jatuhnya pesawat terbang, hilangnya helikopter secara tiba-tiba, tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi. Tentu msih segar dalam ingatan kita musibah tsunami yang menimpa Aceh tahun 2004 lalu. Waktu itu gempa bumi dan tsunami dalam sekejap meluluhlantahkan Aceh. Muntahan air laut itu melhp sipa saja yang ada di depannya. Tragedi ini enjadi bencana nasional dan menyedot perhatian dunia internsional untuk segera menyalurkan bantuannya

Kini musibah itu datang lagi. Letusan gunung merapi dan gempa bumi menimpa sudara-saudara kita di Jogjakarta dan jawa tengah. Musibah!, memang tak bisa diprediksi. Dtangnya dengan tiba-tiba. Tak memberui kabar kepada siappun. Hanya isyarat alam yang memberi kabar. Ia dtang membawa kejutan. Sebuah keutan yang menyakitkan. Kejutan yang meninggalkan luka dan kepedihan yang dalam. Ia tak memandang bulu. Menimpa siapa saja yang ada disekitarnya. Tak memndang tua atupun muda, besr taupun kecil, laki-laki ataupun perempuan. Tak juga gentar dengan kecangihan teknologi penangkal gempa. Pun tak pernah surut dengan dengan kokohnya bangunan penckar langit. Musibah tetap perkasa. Toh, semuanya takluk di tengah kedahsyatannya.

Tepat pukul 05.50 WIB pada sabtu pagi 27 Mei, gempa dengan kekuatan 5,9 Skala Rekhter (SR) meluluhlantahkan seisi Jogjakrta dan Jawa Tengah. Data terbaru jumlah korban yang meningal dunia untuk daerah Jogjakarta yakni lebih dari 6000 jiwa. Gejolak lam ini, seolah mempertegas keangkuhan sang pemilik jagad semesta ini, sekaligus memperlihatkan ketidak berdayaan kita. Tak ada yang mengira, ditengah orang-orang waspada akan muntahan lahar panas dari puncak semeru, Jogjakarta dan sekitarnya dihentakan dengan gempa bumi. Sungguh, ini merupakan kado menyakitkan ditengah kerisauan akan muntahan lahar panas. Mungkinkah ini cara Tuhan mengur hambanya?. Atau mungkin ini cara Tuhan menyayangi hambanya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?

Haruskah mereka yang tak berdosa turut menanggung beban duka tersebut?. Rasa-rasanya, terlalu sombong kita, jika sekiranya memvonis Tuhan tidak sayang hambanyakepada sipa kita harus bertanya? Coba kita tanya Demikian potongan syair lagu Ebiet G Ade. Mungkin ini peringatan dari allah. Allah berfirman: Kami pasti akan menguji kalian dengan sesuatu berupa: ketakutan; kelaparan;serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ditimpa musibah maka mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (QS Al Baqarah: 155-156).

Sebuah seruan untuk bertanya kepada alam. Seruan yang mengandung makna yang sangat dalam. Bersahabat dengan alam, berbuat yang tebaik untuk alam serta menjaga keseimbangan dengan alam agar tidak terjadi ketimpangan. Tidak memperlakukan alam dengan semena-mena. Kira-kira seperti itulah pesan yang terkandung dalam potongan syair lagu tersebut. Boleh jadi korban yang berjatuhan tersebut, adalah sebuah upaya menyeimbangan alam semesta ini. Mungkin semesta ini sudah tidak mampu lagi menahan beban akibat kerusajkan yang terjadi di darat dan di laut. Seperti firman Allah dalam Al-Qura’an yang berbunyi: Telah nyata kerusakan di darat dan di lautan akibat ulah manusia agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan-Nya) (QS Ar-Rum: 41).

Bayangkan!. Apa jadinya jika sekiranya manusia memiliki umur yang abadi. Maka untuk menyeimbangkannya, Tuhan memilih cara yang terbaik bagi hambanya. Rupanya mereka yang menjadi korban, lebih dulu dicintai oleh Rabb nya. Demikian halnya dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Jogjakarta dan Jawa tengah.

***

Semoga bait-bait tulisan ini bisa menggugah naluri kemanusiaan kita, sekedar mengulurkan tangan meringankan beban mereka. Semoga sumbangan kita, sedikit memberi arti bagi kelangsungan hidup mereka. Musibah ini juga sekaligus mengajarkan kita akan solidaritas kemanusiaan di tengah konflik yang mengatasnamakan suku, agama dan ras. Bencana ini sekaligus memicu kesigapan kita. Semoga Allah memberikan ketegaran kepada mereka yang tertimap bencana. Rasulullah bersabda, Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin; seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika di mendapatkan nikmat, dia bersyukur; itulah kebaikan baginya. Jika dia tertimpa musibah, dia bersabar; itupun kebaikan baginya. (HR Muslim).

Lihat saja, satu hari sesudah bencana, masyarakat kita ramai-ramai melakukan aksi solidaritas. Dari kegiatan donor darah, bazar, maupun mendirikan posko-posko penggalangan dana.. Di Makassar, posko penggalangan bencana sangat mudah kita jumpai. Dari partai politik, LSM, perusahan, hingga kampus-kampuspun ramai-ramai mendirikan posko. Tak peduli,ia kampus swasta atau negeri. Mahasiswa Unhas, entah sudah keberapa kali mendirikan posko serupa di depan pintu satu. Tentu saja kita berharap uang hasil sumbangna itu disalurksan kepada yang berhak menerimannya., jangan ada yang masuk kantong pribadi. Yang terpenting lagi adalah, pengumpulan dana ini harus dipertanggungjawabkan secara publik melalui proses yang transparan. Terakhir, hanya kata sabar dan sabar yang terucap dari bibir ini (kita semua), sabarlah saudaraku. Jangan menangis Jogjaku masih ada kami di sampingmu.

Entry filed under: Humaniora. Tags: .

Iklan Layanan Individu Anggap ini Sajak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Juni 2006
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: