Perempuan di Etalase Publik

April 24, 2006 at 10:07 am 4 komentar


Oleh Aryanto Abidin

Penulis adalah anggota non aktif Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Sulsel,

Perempuan!. Memperbincangkannya, tak akan ada habis-habisnya. Selalu saja ada waktu untuk membicarakannya. Di segala ruang dan waktu, selalu ada tempat untuk melukiskan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Di tivi dan koran selalu saja ada berita tentangnya. Koran dan majalah pun tidak ingin ketinggalan. Secara khusus juga menerbitkan majalah tentang perempuan. Termasuk yang menghbohkan akhir-akhir ini adalah Majalah Playboy. Di kamar kost laki-laki pun, perempuan selalu menjadi topik yang nggak ada matinya. Apalagi kalau sudah menyangkut perempuan idaman, malampun seperti siang.

Dalam dunia seni, perempuan merupakan inspirasi yang maha agung guna melahirkan karya seni. Bahkan Leonardo da Vinci melahirkan sebuah lukisan perempuan yang diberi judul Monalisa. Alhasil, karya ini menjadi karya termahal dan menyejarah.. Keindahan tubuhnya terkadang menjadi inspirasai yang menjanjikan, hingga lukisan perempuan telanjangpun juga dianggap sebagai karya seni yang maha dahsyat.

Prempuan juga selalau menjadi inspirasi dalam dunia musik. Sampai-sampai group musik Ada Band menciptakan sebuah lagu khusus tentang perempuan dengan judul Karna wanita ingin dimengerti. Lagu yang begitu renyah dan enak di dengar. Terkadang menyentil naluri saya untuk segera menuntaskan masa lajang saya, eii…ts. Untuk membunuh sepi, sesekali saya mendendangkannya. Tidak!, ini hanyalah sebuah lagu, dia tidak boleh mendominasi pikiran dan batin saya.

Dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah tempat perbelanjaan (mall) termegah di kota ini. Saat itu, sedang berlangsung sebuah promo mobil luaran baru dari sebuah perusahaan otomotif, dan memamerkannya di atrium mall tersebut. Ruang pamer yang terletak di lantai dasar tersebut, membuat mata para pengunjung mall harus rela berpapasan dengan suasana promo. Bukan karena mobilnya, tapi karena perempuan sexy yang mendampingi mobil yang dipamerkan.
Demikian juga dengan kedua mata saya. Mata sayapun menyambar beberapa mobil mewah yang terpajang di ruangan itu. Tiap mobil yang dipajang disandingkan dengan perempuan cantik nan sexy. Perempuan-perempuan itu mengenakan baju super ketat dengan sedikit belahan di bagian dada, ditambah rok mini yang hanya sampai paha serta sepatu hak tinggi. Semakin serasilah dengan mobil mewah yang berada di sampinya. Perempuan-perempuan cantik nan sexy itu siap melempar seyum manis kepada pengunjung yang lalu lalang di sekitarnya. Dengan sedikit senyum manis dan gerakan yang menggoda mangsapun terperangkap.

Beberapa pengunjung mendekati mobil yang dipajang. “Boleh dicoba kok Mas!”. Perempuan itu menawarkan untuk sekedar memegang stir mobil dan mencoba menghidupakan mobil. Lalu dengan nada bercanda dan sedikit gombal pengunjung laki-laki tersebut menawar balik, “bagaimana kalau mbak yang saya coba duluan”. Perempuan penjaga mobil tersebut cuma bisa senyum malu-malu. Entah itu adalah sinyal negative atau positif. Kalau sinyal positif, maka akan berlanjut di meja makan dan kemungkinan akan berakhir di kamar hotel.
Mobil yang sudah tampak mewah dan sporti tersebut, justru semakin menawan dengan kehadiran perempuan cantik nan sexy di sampingnya. Mata saya tak kuasa menahannya. Pikir saya, betapa bodohnya perempuan-perempuan itu, kok mau-maunya dipajang seperti mobil-mobil mewah itu. Mungkinkah hanya numpang keren dibalik harga mobil yang melangit tersebut?. Sehingga dengan begitu akan meninggikan derajatnya. Entahlah!. Hanya merekalah yang mampu menjawabnya dengan pasti.

Saya tidak bisa membayangkan, seandainya perempuan yang dipajang bersama mobil tersebut adalah anak saya. Mungkin naluri kebapak-an saya tidak akan tega membiarkannya. Tapi kalau seandainya perempuan tersebut adalah istri saya, maka saya akan melarangnya. Saya tidak bisa membayangkan betapa ribuan mata yang memadati mall tersebut menikmati kemolekan tubuhnya secara gratis. Dalam benak saya terbesit Tanya, adakah korelasi antara mobil mewah trsebut dengan perempuan cantik nan sexy?. Pertanyaan ini mungkin oleh sebahagian orang dianggap konyol dan terlalu berlebihan. Tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan kalau perempuan-perempuan tersebut hanya akan menjadi “penyedap mata” pengunjung mall.
Fenomena terebut hanyalah sedikit dari realitas keseharian kita tentang perempuan. Di negeri ini,bahkan ada lembaga pemerintah yang khusus menangani perempuan. Entah sudah berapa tahun lembaga tersebut berdiri di negeri ini. Lembaga tersebut bernama Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Suatu kementrian yang secara khusus memberdayakan perempuan dan menangani masalah-masalah prempuan. Namun peranan lembaga ini masih belum optimal dalam upaya meningkatkan citra perempuan.

Terkait dengan istilah kementerian tersebut, saya pernah dikritik oleh seorang akhwat pada suatu kesempatan rapat. Sebelum-sebelumnya, saya begitu enjoy menggunakan istilah pemberdayaan terhadap suatu jabatan dalam structural lembaga kemahasiswaan. Saya dikritik habis-habisan, “kenapa tidak menggunakan istilah pengembangan potensi perempuan. Emangnya perempuan itu tidak memiliki potensi, apa?”. Kata pemberdayaan, kedengarannya terlalu komersil. Seolah-olah potensinya hanya dieksploitsi. Maka pantas saja jika selama ini perempuan dieksploitasi potensinya. Terutama potensi fisiknya. Lihat saja, kalo ada acara penyerahan hadiah pada even-even tertentu.

Perempuan-perempuan cantik membawakan nampan berisi kalung bunga, medali atau trophy untuk kemudian diserahkan kepada pejabat yang bertugas mengalungkan atau memberikan trophy kepada sang pemenang even tersebut. Demikian juga dengan pejabat Negara, setiap kedatangannya di daerah-daerah disambut oleh perempuan-perempuan cantik dengan tarian khas daerah masing-masing.

Lalu bagaimana dengan kehidupan bermahasiswa kita?. Kalau kita mau bicara aktivis lembaga yang perempuan, bisa dihitung jari. Sangat jarang perempuan yang jadi ketua lembaga kemahasiswaan. Kalaupun ada, paling-paling di fakultas yang di dominasi perempuan. Biasanya posisi yang selalu digemari adalah sekertaris, bendahara atau menjadi protokol pada acara tertentu. Kadang-kadang seorang aktivis-yang laki-laki tentunya-menjadi cerdas dan kreatif serta bergairah bila dalam suatu forum dihadiri perempuan. Pertanyaan sederhananya adalah, kenapa perempua hanya mau ditempatkan pada second position?. Padahal memiliki potensi yang tak jauh beda dengan laki-laki.

Mungkinkah mereka terlalu disibukan dengan urusan gincu dan bedak?. Entahlah!. Tiba-tiba saja Seorang teman bertanya kepada saya, “seperti apa perempuan idaman kamu?”Saya menjawab, perempuan berjilbab, wajah keibuan, cerdas dan menarik.“Bagaimana dengan soal usia?” lanjutnya. “Saya lebih suka yang usianya lebih tua dari saya ”. jawab saya. “Kamu sendiri?”lanjut saya..”Saya lebih suka daun muda.”. Kenapa? Tanyaku. “biar tetap awet muda”jawabnya. Kamipun tertawa terbahak.,ha…ha….ha…

Entry filed under: Humaniora. Tags: .

Inilah UNHAS (Universitas Negeri Hampir Swasta) … 25 Tahun Mengeja Waktu

4 Komentar Add your own

  • 1. Putirenobaiak  |  Mei 5, 2006 pukul 8:15 am

    setuju dg tulisanmu. dan aku plg ga suka dg istilah ‘pemberdayaan’ perempuan, emangnya perempuan tak berdaya ya…:D

  • 2. Aryanto Abidin  |  Mei 5, 2006 pukul 9:43 am

    Makasih. Memang perempuan ga perlu diberdayakan. kedengarannya terlalu komersil. Gimana kalau kita usul agar diganti aja kementrian pemberdayaan perempuan dengan Kementerian Pengembangan Potensi Perempuan. Gimana mbak?

  • 3. MT  |  Mei 6, 2006 pukul 1:40 am

    Perempuan masih dibahas di sini. Sebenarnya yang mbeda’in cowok dan cewek itu cuma masalah kelamin saja. urusan kerja, profesi, keberanian, kepengecutan, dll semuanya dimiliki oleh cowok/cewe.
    Pada saatnya nanti tak perlu lagi ada kementrian yang merepresentasikan keperempuanan, jika setiap orang sudah bisa menerima kesetaraan gender. Kalo perempuan masih direpresentasikan oleh “sesuatu”, ya berarti memang masih dianggap lemah.

    jabat erat from
    http://mataharitimoer.net.ms

  • 4. Aryanto Abidin  |  Mei 6, 2006 pukul 7:09 am

    Thank you MT. tlah kasih koment. betul katamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

April 2006
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: