SKIZOFRENIA PEMILU RAYA KEMA UNHAS

April 23, 2006 at 2:28 am 1 komentar

Gedung rektorat Unhas, Simbol Keangkuhan
Oleh : Aryanto Abidin
Sekum HMI Komisariat Perikanan periode 2002/2003, Aktivis KAMMI Daerah Sulsel, Presiden Partai Lingkar Cendekia (PLC) dan aktif di beberapa UKM

Akhir-akhir ini perdebatan yang selalu mengisi ruang dan waktu kita, adalah perdebatan antara dua kekuatan wacana yang saling mendominasi. Dua kekuatan itu adalah kekuatan yang pro terhadap pembentukan Lema dan yang kontra terhadap pemebentukan Lema.

Keduanya masing-masing punya alasan yang rasional. Bagi saya, perbedaan ini adalah hal yang wajar, karna di sinilah tempatnya (kampus). Tidak usah shock, apalagi sampai panik. Tentu saja kita berharap tidak ada yang kejang-kejang apalagi sampai ‘merah telinganya’, lalu ‘main kayu’.

Perdebatan panjang mengenai sah dan tidak sahnya proses yang terjadi pada pemilu raya Kema Unhas, menemui titik kulminasinya. Hal ini ditandai dengan kemenagan Parati Lingkar Cendekia (PLC) sebagai pemegang suara mayoritas partai yakni 2074 suara, serta terpilihnya kawan Arham secara de facto sebagai Prsiden Lema Unhas. Bagi saya, pemilu raya kali ini bukan skedar mendudukan atau mengusung siapa figure yang akan memimpin lema unhas ke depannya, akan tetapi ada sebuah ruh yang harus tetap dikibarkan dalam kehidupan bermahasiswa kita. Ruh itu adalah fungsi dan peran gerakan mahasiswa dalam mengusung agenda perubahan.

Dalam lingkup keindonesiaan, disadari atau tidak, bahwa peran gerakan mahasiswa sedang mengalami kebingungan serta sedang mencari arah, akan kemana ia akan melangkah. Demikian pula dalam konteks lokal saat ini. Unhas (yang diklaim) sebagai referensi gerakan mahasiswa Indonesia timur, pun belum, mampu menentukan arah, akan kemana ia melangkah. Yang lebih tragis lagi adalah lembaga kemahasiswaan Unhas belum mampu mendefinisikan perannya. Tentu kita tidak ingin lembaga kemahasiswaan hanya menjadi pelengkap penderita di tengah penderitaan yang melanda bangsa ini. Harus ada upaya ke arah yang lebih baik.

BERKACA PADA SEJARAH

Harus diakui, bahwa sejarah kelembagaan mahasiswa Unhas, tidak pernah tumbuh dengan sempurna. Mati dan tumbuh, begitulah ralitasnya (baca juga Identitas awal maret, hal.9). Lembaga kemahasiswaan muncul (boleh jadi) tergantung musim, atau bahkan tergantung kepentingan atau pesanan. Bahkan boleh jadi hari ini kita bicara tentang Lema unhas, esok hari Lema Unhas tidak lagi menjadi pembicaraan yang sexy di sudut-sudut kampus sembari menyeruput kopi panas buatan mace-mace. Hilang bersama hembusan angin.

Ada yang menganggap dibentuknya kembali Lema unhas akan mampu menyatukan gerakan mahasiswa Unhas. Namun tidak jarang pula yang menganggap bedirinya Lema Unhas tidak memberikan jaminan akan mampu menyatukan gerakan mahasiswa Unhas. Tidak berlebihan kiranya, mengingat sejarah kelam Lembaga kemahasiswaan Unhas yang mengalami pasang surut. Selalu mengikuti siklus mati dan tumbuh. Demikian seterusnya.

Kenyataan ini justru memperkuat tesis ketidakmampuan lembaga mahasiswa di tingkat universitas untuk menyatukan gerakan mahasiswa unhas. Terlepas dari itu semua, saya tidak ingin mengintervensi terlalu jauh proses yang telah kita lewati bersama. Bagi saya, lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas harus kita munculkan kembali.

Oleh karnannya, perdebatan kita hari ini bukan lagi pada tataran ada atau tidaknya lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas. Pembicaraan kita hari ini adalah bagaimana mengawal perjalanan Lema satu tahun ke depan. Dan yang terpenting lagi adalah bagaimana menganalisis akar penyebab mati-tumbuhnya lembaga kemahasiswaan kita. Karna bukan tidak mungkin satu tahun ke depannya Lema (boleh jadi) hilang dari ingatan kolektif kita. Oleh karenanya butuh analisa bersama sampai ke akar-akarnya (root cause analysis), gerangan apa yang menyebabkannya.

SKIZOFRTENIA JELANG PEMILU RAYA DAN PASCA PEMILU RAYA

Dalam definisi psikologi, skizofrenia adalah suatu penyakit kegilaan yang dialami oleh manusia. Suatu penyakit dimana manusia mengalami delusi atau keyakinan yang salah. Janice Jordan, mantan pengidap skizofrenia selama 25 tahun mengatakan, menjadi orang gila adalah menjadi seorang pengembara di sebuah dunia, dimana antara yang nyata dan yang tidak nyata amat sulit dibedakan. Bahkan terkadang menjadi seorang pecundang (Skizofrenia facts, www.bcss.com).

Lalu bagaimana korelasinya dengan pemilu raya mahasiswa?. Jelas, banyak kegilaan yang terjadi dalam pemilu raya Kema unhas. Kita mulai dari pasca pemilu. Ada fenomena menarik yang muncul pasca pemilu raya Kema Unhas. Fenomena tersebut adalah adanya indikasi penolakan (penundaan) hasil pemilu raya. Fenomena ini menarik untuk diperbincangkan. Mengingat orang-orang yang turut bergabung dalam penolakan hasil pemilu ini adalah orang-orang yang selama ini gencar mewacanakan pembentukan Lema. Agak ironis memang. Mereka mulai menyusun kekuatan untuk menolak (menunda) hasil pemilu. Ada apa gerangan?. Bukankah selama ini mereka selalu menggembar gemborkan pembentukan Lema?. Sungguh, ini merupakan suatu kegilaan.

Bagi saya isu penolakan (penundaan) terhadap hasil pemilu ini merupakan isu murahan dari segelintir orang-orang yang tidak bisa menerima kekalahan dalam proses ini. Fenomena ini justru sangat berbanding terbalik dengan kondisi jelang pemilu raya. Semua calon presiden maupun tim dari partai-partai, ramai-ramai menjual isu perbaikan atau penguatan secara kelembagaan. Bahkan hampir semua calon dan partai yang giat melobi salah satu partai yang diprediksikan bakal meraih suara terbanyak, tentu saja dengan menawarkan isu perubahan dan penguatan kelembagaan, temasuk signifikasi pemebentukan Lema.

Kian mendekati (bahkan saat) pemilu, konstelasi politik kampus kian memanas. Tim dari calon presiden tertentu saling melempar isu-isu miring (black campaign). Saling sikut, sikut kiri, sikut kanan. Ada yang mengkaitkan bahwa calon yang ini dekat dengan pejabat “A”, calon yang itu dekat dengan pejabat “B”. Bahkan ada yang melakukan “politik maling teriak maling”. Mengaku “main besih” padahal “main kotor”. Bukankah hal tersebut merupakan suatu bentuk kegilaan?.

Yang lebih konyol dan vulgar lagi adalah terdapat salah satu oknum Ketua BEM (atau kita sebut saja dia dengan Mr. “X”) yang terindikasi bemain “dua kaki”. Oknum ketua BEM ini mencoba “bermain” di dua habitat yang saling berlawanan, yaitu antara kelompok yang menerima proses pemebentukan Lema dan yang menolak proses pembentukan Lema. Di satu sisi berusaha mengawal pembentukan Lema lewat forum silahturahmi antar BEM. Di lain sisi Mr. “X” ini berusaha “mengompor-ngompori” salah satu UKM yang selama ini sangat getol menolak proses pembentukan Lema. Namun, di luar dugaan Mr. “X”, UKM yang yang ia kompori tidak sebodoh yang dikira. UKM tersebut sangat mafhum dengan gerak-gerik Mr “X” tersebut.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan akhir, tenyata Mr. X tersebut hanyalah seorang yang oportunis. Seorang yang mencari tempat untuk mengakomodasi kepentingan diri sendiri. Kenyataan ini mengisyaratkan, siapa sebenarnya yang oportunis dan siapa yang idealis. Hal ini juga membuktikan siapa sebernarnya yang terindikasai memiliki syahwat kekuasaan yang paling tinggi dan siapa yang murni bejuang untuk penguatan kelembagaan Unhas.

Fenomena keterlibatan ketua BEM dalam dukung mendukung salah satu calon presiden adalah suatu bentuk kegilaan. Kenyataan ini sangat menyedihkan. Harusnya posisi BEM dalam mengawal proses pemilu raya ini adalah sebagai penjaga nilai dan moral serta etika organisasi. Ketua-ketua BEM tidak boleh (latah) menjadi tim sukses dari salah satu calon presiden. Harusnya Ia bermain pada wilayah kriteria. Seperti apa kriteria presiden Lema yang diinginkan oleh mahasiswa? Atau menawarkan agenda-agenda yang harus dikawal satu tahun ke depannya. Bukan malah sebaliknya, bahkan ada yang rela “mati” untuk sang calon presidennya. Lagi-lagi ini adalah suatu kegilaan di tengah-tengah lingkungan yang rasional.

KPU, ADA APA DENGANMU?

Haruskah KPU Mahasiswa Unhas mengalami nasib yang sama dengan KPU kenegaraan kita? Pertanyaan ini selalau menghias indah dalam cakrawala berpikir saya. Kekhawatiran ini tentunya sangat wajar. Mengingat dua institusi ini memiliki nama dan peran serta fungsi yang sama, hanya saja wilayah keja mereka yang membedakannya. Kalau KPU kenegaraan kita dicacimaki lantaran tidakan anggotan-anggotanya melakukan korupsi.

Maka tidak demikian dengan KPU unhas. Kita tidak menginginkan KPU Unhas menjadi musuh bersama bagi partai-partai dan calon presiden pada pemilu raya. Hal ini disebabkan lantaran terjadi “skandal” penundaan ketetapan secara resmi tentang hasil pemilu kepada partai dan calon independen. Transparansi hasil pemilu adalah bentuk pertanggungjawaban moral kepada seluruh mahasiswa Unhas. Jadi, penundaan pengumuman hasil pemilu berarti penghianatan terhadap seluruh mahasiswa Unhas.

Dalam beberapa kesempatan, KPU sering membuat kesalahan-kesalahan yang justru memicu konflik. Sebut saja kesalahan nama salah satu partai pada lembaran KPU News. Bahkan ada salah satu partai yang tidak (termuat) mendapat tampat khusus dalam lembaran KPU News. Bahkan ada salah satu partai yang tidak tercantum visi dan misi partainya. Namun kemudian diralat sewajarnya. Dalam konteks politik, kesalahan sekecil apapun tidak lantas dimaknai sebagai sebuah khilaf yang biasa-biasa saja, lalu kemudian mencari pembenaran atas khilaf tersebut.

Kesalahan tersebut justru akan dimaknai sebagai trik politik murahan. Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita, adakah kesalahan tersebut adalah sebuah upaya mematikan potensi partai tertentu?. Apalagi selama ini di internal KPU terjadi perpecahan, lantaran beberapa anggotanya yang terindikasi terlibat dalam dukung mendukung beberapa calon presiden. Hal ini merupakan suatu kesalahan terbesar. Bukankah hal tersebut justru akan mempengaruhi kinerja lembaga yang mereka lakoni?. Entahlah, hanya nurani mereka yang mampu menjawabnya. Sepertinya KPU harus belajar ulang untuk memaknai kearifan, karena fajar karifan telah redup lantaran nurani mereka yang terbelah. Di akhir tulisan ini mari kita berceloteh: KPU, ada apa denganmu?.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Dilema air hujan, sedia payung sebelum ………………….. HATI_HATI TERHADAP SITUS DI BAWAH INI

1 Komentar Add your own

  • 1. Rahmat muallim,. Teknik prtmbngan unhas  |  Februari 28, 2010 pukul 3:19 am

    Sy spakat dgn artikel ta..,lembaga kemahasiswaan sekarang telah menjadi ajang politik n terealitas dgn money politik shngga tdk mencerminkan slyakx mahasiswa yg netral n pro ats gerak prubahan demi prbaikn indvidu bangsa n kekuatan sosial bangsa dalam satu ranah perubahan.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

April 2006
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: