Dilema air hujan, sedia payung sebelum …………………..

April 17, 2006 at 3:02 pm Tinggalkan komentar

Hujan yang dinanti dengan penuh kecemasan akhirnya datang juga membawa harapan-harapan yang besar semoga kemarau panjang akhir-akhir ini segera berakhir, mengakhiri pula segala ekses buruk yang menyertainya. Kemiskinan, pengangguran, naiknya harga barang hampir-hampir “membunuh” berbagai segi kehidupan orang Indonesia. Petani-petani yang sebagian besar mengandalkan curah hujan adalah kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak dari kekeringan yang berkepanjangan ini. Namun dilemma air hujan ini belum dipahami dengan baik oleh masyarakat dimana pada musim kemarau kita sangat sulit mendapatkan air bersih tetapi giliran musim hujan justru banjir melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia antara lain menyebabkan erosi yang berkepanjanganDurasi hujan dan fenomena global perubahan cuaca

Posisi Indonesia di sebelah barat pasifik membuat wilayah ini sangat dipengaruhi oleh fenomena global El-Nino dan La-Nina di lautan pasifik. Fenomena alam el-nino yang dipengaruhi oleh tekanan dan kecepatan arus angin dipasifik sangat mempengaruhi terbentuknya awan hujan diwilayah barat pasifik. fenomena yang oleh seorang ilmuwan Inggris Sir Robert Walker dinamakan ENSO (El-nino Southern Oscillation) pada kondisi hi-index di pasifik angin yang bertiup kearah barat sangat kuat menggiring awan hujan ke arah barat. Pada kondisi seperti ini hujan di wilayah Indonesia, Australia dan sebagian besar Asia tenggara bisa diharapkan untuk turun sangat lebat. Sebaliknya pada kondisi low-index angin yang dari arah pasifik bertiup kurang kencang kearah barat pasifik sehingga kurang mampu membawa awan hujan kearah barat pasifik, sehingga musim kering yang panjang akan terjadi di wilayah barat pasifik, sedangkan wilayah timur pasifik terutama wilayah amerika selatan memperoleh curah hujan yang cukup tinggi.

Belum pernah ada kejadian el-nino yang sama persis, yang terburuk pernah terjadi pada el-nino tahun 1982-1983, kondisi yang sulit diprediksi ini tentunya karena belum ada metode yang secara gamblang dapat memperkirakan bagaimana perubahan tahunan di pasifik berpengaruh terhadap pola perubahan iklim di wilayah yang mengelilinginya, walaupun telah di ketahui bahwa pola global cuaca dan iklim itu di pengaruhi oleh perubahan di seluruh belahan bumi.

Secara mikro, dampak dari fenomena ini sering dirasakan di wilayah Indonesia seperti kebakaran hutan dalam skala besar atau musim kering yang panjang, tetapi kondisi sebenarnya kurang diperhitungkan, terutama dalam perencanaan pertanian. Di negara-negara tetangga kondisi ini sangat penting dalam perencanaan pertanian dan pola tanam tahunan, contohnya Australia yang mengandalkan pertanian yang berskala besar kondisi ini sangat penting dalam merencanakan pola tanam dan investasi di bidang pertanian. Ketika musim el-nino, petani disarankan untuk menanam dalam jumlah yang tidak terlalu besar mengingat persediaan air yang akan berkurang

Wilayah Indonesia terus menerus mengalami penggundulan hutan dalam skala yang cukup besar. Banjir bandang yang terjadi di Lombok pun adalah akibat dari penebangan liar pada kawasan lindung di lereng gunung Rinjani. Data pada kantor cabang dinas kehutanan kebupaten Bima kehilangan hutan diwilayah Bima cukup signifikan hingga tidak heran jika ketika hujan mulai turun air sungai pun langsung berwarna coklat.

Kenapa kondisi ini menjadi penting?, wilayah Nusa Tenggara dengan bentuk pulau yang ramping dan panjang mempunyai daerah aliran sungai yang pendek dengan sungai – sungai yang pendek dan kecil. Hilangnya hutan secara ekologis sangat mempengaruhi intersepsi hujan oleh hutan dimana uap air yang terbawa oleh angin tidak bisa dimanfaatkan baik untuk hutan itu sendiri maupun untuk menurunkan suhu udara di sekitarnya. Peran lain yang sangat vital dari hutan yaitu dalam hal menyimpan air tanah, hilangnya hutan sangat berpengaruh pada kecepatan aliran permukaan sehingga air hujan akan langsung mengalir ke laut membawa lumpur karena permukaan tanah tidak tertutup oleh pohon-pohon, rumput dan sampah – sampah organik. Air tanah yang idealnya dapat di manfaatkan untuk jangka panjang kini sudah sangat berkurang terbukti dengan semakin sulitnya memperoleh air dan sumur-sumur yang semakin dalam sebagian besar wilayah Bima.

Dampak Sosial Untuk sebagian besar pertanian tadah hujan di kabupaten Bima, kondisi seperti ini merupakan akar dari segala persoalan yang mana turunnya produktifitas lahan bukan saja berakibat pada turunnya hasil produksi pertanian tetapi juga membawa dampak social yang cukup signifikan. Penduduk desa semakin rentan terhadap ekploitasi para rentenir yang mengambil keuntungan pada waktu panen gagal. Tidak ada alternatif lain untuk hidup membuat sejumlah besar pendudukpun meninggalkan kampung halaman menuju Kalimantan atau Malaysia tentunya menjadi tenaga kerja ilegal yang kerap di tipu atau dijual oleh calo tenaga kerja. Musim kemarau yang berdebu pun membawa penyakit yang cukup membuat miris. Dimusim kemarau anak – anak di sebagian besar wilayah Bima menderita batuk pilek. Penyakit- penyakit yang kurang di anggap penting ini sebenarnya secara langsung maupun tidak langsung adalah penyebab dari turunnya daya tahan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Dilain pihak musim hujan juga cukup berdampak buruk bagi lingkungan hidup. Ini dapat dilihat ketika hujan muali turun mulailah pula banjir berkepanjangan di beberapa sungai di daerah ini. Ini tentu saja karena hutan tidak mampu lagi menahan air hujan hingga aliran permukaan langsung membawa air hujan beserta lumpur dan bahan – bahan organik lainnya ke pantai. Pantai menjadi tertimbun lumpur, kurang indah dan tidak produktif. Lingkaran ini tidak akan pernah putus kalau dibiarkan terus seperti ini, kecuali semua pihak pertekad untuk bekerja sama agar Bima di masa depan adalah kawasan yang layak huni, sehat ddan berwawasan lingkungan. Hal ini tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, tetapi komitmen untuk memanfaatkan segala sumber daya untuk kemajuan bersama secara adil dan jujur perlu di kedepankan untuk kepentingan bersama. Tulisan ini hanyalah untuk membuka wawasan kita bersama bahwa dihadapan kita ada masalah besar yang tidak boleh dibiarkan berlanjut seperti ini, pada bagian selanjutnya akan dibahas bagaimana pola kepemilikan tanah (properti ownership) berpengaruh terhadap pola pemanfaatan hutan di kabupaten Bima. Tentunya kritik, saran dan tanggapan-tanggapan sangat kami terima demi memperkaya wacana ini. salam, semoga bermanfaat

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Jangan Terlalu cepat Merasa Tua SKIZOFRENIA PEMILU RAYA KEMA UNHAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

April 2006
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

%d blogger menyukai ini: