IDEOLOGI, PERLUKAH DIPERTAHANKAN?

Januari 26, 2006 at 1:21 pm 1 komentar

Oleh: Aryanto Abidin Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel
bisa dikirimi e-mail lewat: aryanto@eramuslim.com atau al_akh_mbojo81@yqhoo.com

Ada yang menarik yang perlu kita cermati tentang kehidupan berbangsa dan bernegara kita, yaitu masalah ideologi. Ideologi merupakan landasan pokok dimana suatu negara atau dalam suatu bentuk kelembagaan meletakan harapan-harapan atau cita-cita yang disepakati bersama. Jadi, apa yang telah menjadi kesepakatan bersama, haruslah berjalan di atas roda ideologi, yang mana ideologi itu sendiri merupakan sesuatu yang telah dan harus disepakati secara bersama-sama pula. Ideologi pertama kali dikemukakan oleh D. Tracy, bahwa ideologi adalah sebuah pemahaman atau ide konseptual yang mampu melihat wajah dunia dengan ketertarikannya pada masalah-masalah sosial (Sosicial interest) dan mampu menawarkan “problem solving” atau pemecahan masalah dalam suatu lembaga kemasyarakatan.

Kalau kita definisikan secara harfiah, maka ideologi itu sendri terdiri dari dua suku kata yakni; Ideo yang berarti ide dan logos yang berarti ilmu. Merujuk pada pengertian secara harfiah tersebut, maka dengan subjektivitas saya, ideologi itu sendiri dapat diartikan ilmu tentang ide-ide. Definisi ini bukanlah definisi yang baku, akan tetapi tidak menutup kemungkinan beribu-ribu definisi yang bercokol dalam setiap kepala kita yang siap meramaikan lembaran putih ini. Kalau benar demikian adanya, maka ijinkanlah saya meminjam definisi ideologi menurut Jack C. Plano & Roy Olton1, bahwa ideologi merupakan sebuah kekuatan dinamis yang setara dengan kekuasaan karena kepaduan dan vitalitas yang diciptakan nya mampu untuk dikendalikan menghadapi negara atau kelompok lain. Merujuk pada definisi Jack C. Plano dan Roy Olton tersebut, maka jelaslah bahwa ideologi itu merupakan landasan-landasan yang memiliki kekuatan dalam membentuk karakter serta cara berpikir suatu masyarakat.

APAKAH IDEOLOGI HARUS TETAP DIPERTAHANKAN?
Adalah benar bahwa dalam suatu lembaga kemasyarakatan memerlukan ideologi. Sangat mustahil dalam suatu lembaga kemasyarakatan menolak adanya ideologi. Hal ini disebabkan Karena ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Lembaga swadaya masyarakat atau yang lebih dikenal dengan nama LSM merupakan salah satu contoh kecil lembaga yang ada dalam suatu masyarakat. Sebuah pemahaman/ide itu bisa dikatakan sebagai sebuah ideologi apabila mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang pencipta. Suatu ideologi dianggap berhasil apabila mampu menanamkan nilai pada obyek ideologi dalam hal ini masyarakat. Kadang-kadang idiologi juga dapat menjadi titik acuan dalam memandang suatu realitas atau kondisi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalau kita kembali pada pemahamannya Jack C. Plano dan Roy Olton bahwa sebuah ideology sangat peka terhadap sifat system politik, pelaksanaan menjalankan kekuasaan, peran individu, sifat sistem ekonomi dan sistem sosial, serta tujuan masyarakat. Sebagai sebuah system keyakinan yang mendasar, sebuah ideologi tidak hanya menggabungkan nilai-nilai dasar masyarakat tetapi ideologi itu sendiri menjadi nilai utama yang harus dipertahankan dan dalam kasus tertentu ideologi harus disebarluaskan kepada masyarakat lain.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak dari setiap pribadi kita untuk kembali menengok sejarah perkembangan ideologi, dalam hal ini ideologi kapitalis dan ideologi komunisme. Dimana kedua ideologi ini sebagai repsentatif atau mewakili topik yang sedang kita bahas. Kedua ideologi tersebut pernah mewarnai sejarah perpolitikan dunia pada akhir abad ke-19, bahkan masih merupakan topik perbincangan yang hangat dalam konteks sekarang. Peta perpolitikan internasionalpun sempat terpolarisasi menjadi dua blok yakni blok barat di bawah bendera kapitalisme (Amerika cs) dan blok timur di bawah bendera komunisme (Unisoviet cs). Ideologi komunis muncul sebagai lawan dari ideologi kapitalisme. Kapitalisme merupakan teori system ekonomi perdagangan bebas atau bisa dikatakan bahwa ideologi kapitalis ini selalu menekankan kepada kepemilikan modal, yang artinya hanya orang-orang yang memiliki modal yang besar yang menguasai factor-faktor produksi dan hal ini bersifat individual. Hal inilah yang merangsang lahirnya komunisme. Komunisme merupakan ideologi yang menghendaki penghapusan pranata kaum kapitalis serta berkeinginan membentuk masryarakat kolektif agar tanah dan modal (faktor produksi) dimiliki secara sosial dan pertentangan kelas serta sifat kekuatan menindas dari negara tidak berlangsung lagi. Dalam setiap upaya-upaya untuk menanamkan ideologinya itu, Paham komunis berusaha mengambil jalan pintas yakni dengan jalan revolusi dengan metode kekerasan. Hal inilah yang menyebabkan antipati masyarakat dunia terhadap paham ini. Kalau kita membuka lembaran sejarah berikutnya, Afganistan yang pernah berada di bawah jajahan Unisoviet mengalami tragedi kemanusiaan yang panjang akibat cara-cara kekerasan yang dilakukan Penganut paham komunis tersebut. Lalu bagaimana dengan Indonesia?. Di Indonesia paham komunisme mencoba merasuk dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dalam rangka penanaman nilai komunis tersebut, paham ini telah dua kali mengalami kegagalan yakni sekitar pertengahan tahun 1950-an dan pada pertengahan tahun 1960-an. Jadi sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa dalam suatu lembaga kemasyarakatan itu secara mutlak memerlukan ideologi. Merunut pada penjelasan sejarah yang dipaparkan di atas, Ideologi tidak selamanya harus dipertahankan. Ideologi dalam suatu lembaga kemasyarakatan bisa saja berubah selama ia tidak bisa memenuhi syarat-syarat penerimaan ideologi itu sendiri.
KESIMPULAN
Ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Ideologi juga merupakan seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa dan digunakan sebagai dasar untuk menata masyarakat dalam bernegara. Ideologi mengandung nilai-nilai dasar yang hidup dalam sistem kehidupan masyarakat dan mengandung idealisme yang mampu mengakomodasikan tuntutan perkembangan zaman kedalam nilai-nilai dasar yang sudah dikristalisasikan dalam pancasila dan UUD 1945. Negara adalah lembaga kemsyarakatan dalam skala makro, untuk itu tentunya negara juga membutuhkan yang namanya ideologi. Negara merupakan patokan bagi setiap lembaga kemasyarakatan dalam lingkup mikro. Bila kita menengok kembali sejarah maka akan kita dapati bahwa ideologi-ideologi itu tidak selalu dipertahankan, karena mengingat syarat-syarat penerimaan ideologi itu sendiri. Yakni harus mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan sang pencipta. Ketika syarat itu belum terpenuhi maka sangat mustahil suatu ideologi itu bisa dipertahankan. (aryanto81)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

MEREKONSTRUKSI PARADIGMA GENDER (Upaya Meluruskan Pemahaman Tentang Gender)1 alamat-alamat blog

1 Komentar Add your own

  • 1. Suparman  |  Mei 10, 2008 pukul 4:41 pm

    berbicara masalah sosial kemasyrakatan tak akan ada habisnya, cuman yang mau mebicarakan hanya segelintir orang saja, untuk ada Mbojo yang punya peduli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Januari 2006
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: