KAMMI dan Tradisi Intelektual (yang ) Malu-Malu

Januari 25, 2006 at 1:11 pm 2 komentar

Oleh: Aryanto Abidin
Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel
bisa dikirimi e-mail lewat:
aryanto@eramuslim.com.atau al_akh_mbojo81@yahoo.com
Seorang teman pernah bertanya pada saya, Apa yang bisa dibanggakan dari KAMMI?. Kontan saja otak saya buru-buru mencari jawaban. Saya jadi tidak percaya diri (PD) dibuatnya. Lalu saya mengingat dan membuka kembali input data tentang KAMMI yang ter-save dalam memori otak saya. Lama nian jawaban itu baru muncul. Akhirnya saya teringat slogan KAMMI; Aksi Kuat, Ibadah Taat, Prestasi hebat. Bagi saya ini bukan sekedar slogan biasa, bukan pula untuk gagah-gagahan, tidak juga untuk menyombongkan diri. Bagi saya ini adalah beban moral dan harus saya pertanggung jawabkan (bahkan) pada Allah. Membaca dua kata pertama slogan tersebut (aksi kuat), lantas saya mencoba menginterpertasi makna dua kata tersebut. Aksi kuat, hemat saya kata aksi bukan saja hanya sebatas aksi dijalanan saja atau bahasa kerennya adalah demo-penggalan kata demonstrasi agar lebih singkat dalam penyebutannya- tetapai maknanya harus lebih luas lagi dan diejahwantahkan dalam ranah kemahasiswaan yakni aksi intelektual.
Semula, tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk duduk dalam posisi structural untuk mengurus KAMMI. Sebelum saya duduk di posisi struktural KAMMI, saya hanya mengamati dari luar atau menjadi pengamat terhadap perkembangan KAMMI dari kejauhan. Bahkan jauh sebelum saya duduk di posisi kepengurusan, salah seorang aktivis KAMMI pernah bertanya kepada saya, apa yang kurang dari KAMMI?. Sebagai orang yang mengamati KAMMI dari luar struktur, saya pun meladeni pertanyaannya. Permasalahan KAMMI sekarang adalah tidak terbangunnya tradisi intelektual dalam tubuh KAMMI, budaya diskusi sebagai bagian dari tradisi intelektual kurang mendapat tempat dalam pikiran kita. Kita terlanjur terninabobokan oleh romantisme sejarah tentang dongeng heroik para pendahulu KAMMI. Saya tidak bermaksud ingin berseberangan dengan Soekarno; jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah). Sekali lagi, tidak bermaksud ingin menutup lembar sejarah KAMMI dalam ingatan kolektif kita. Akan tetapi romantisme sejarah yang berlebihan justru akan menyuntik mati kemerdekaan berpikir dan berkreasi kita, lalu mati secara mengenaskan.
Lalu pertanyaannya, apa yang kita pelajari dari sejarah pembentukan KAMMI?. Sederhana sebenarnya. Jawaban itu sudah ada dalam kepala kita masing-masing. Sebenarnya saya enggan untuk memaksakan pikiran saya kepada anda. Tapi tak apalah!, mungkin ini cuma sebagai acuan saja. Mari kita melihat bagaimana awalnya mereka mempersiapkan diri untuk menyambut perubahan itu. Para penggagas KAMMI pada waktu itu melakukan gerilya intelektual lewat masjid. Mereka jauh-jauh hari mempersiapkan hal tersebut. Persiapan ruhiyah yang dibarengi dengan kekuatan intelektual yang mantap, itulah yang dipersiapkan oleh pengagas KAMMI. Sehingga ketika gendering perubahan mulai ditabuh melalui momentum reformasi 1998, mereka tidak gagap menyambutnya. KAMMI Sul-Sel? Atau bahkan KAMMI Pusat, masih punyakah sense of crisis terhadap kondisi kekinian KAMMI?. Jawabannya ada pada kita. Apakah kita yang akan meng-eutanasia KAMMI?, sehingga hilang dari peredaran dan tidak dibutuhkan lagi. Atau yang terjadi adalah sebaliknya, kita yang hilang dari peredaran lantaran (dianggap) tidak becus mengurus KAMMI. Semoga saja ini tidak pernah terjadi. Kalaupun terjadi, itu adalah kecelakaan sejarah yang patut kita tangisi.
Sejarah telah membuktikan betapa tradisi intelektual telah menjadi bahagian terpenting dari perjuangan pendiri bangsa ini. Soekarno misalnya, membangun bangsa ini dari kelompok diskusi sehingga dari diskusi itu menumpahkan ide-ide kreatif dan membawa semangat pencerahan yang menjadi referensi perjuangan anak muda pada jamannya. Bahkan saking radikalnya anak muda yang bernama Soekarno ini, pernah berkata; dari kamar inilah nasib bangsa ini di tentukan. Aristoteles pun. Membangun alam akademosnya dari kelompok diskusi kecil yang terdiri dari beberapa orang tanpa terkungkung oleh batas waktu dan tempat.
Pernah suatu waktu dalam rapat rutin salah seorang teman yang juga pengurus KAMMI pernah mengeluh tentang minat kader KAMMI terhadap budaya diskusi. Padahal ia sudah setengah mati mengakomodasi kader KAMMI untuk membangun tradisi intelektual melalui kegiatan-kegiatan diskusi. Namun sayang sungguh sayang kegiatan seperti ini kurang mendapat respon dari kader-kader KAMMI bahkan pengurusnya pun nyaris hilang dari kegiatan tersebut. Ada apa dengan kader KAMMI?. Menurut saya, any something wrong, ada yang salah dengan KAMMI. Kalau sudah begini, lantas siapa yang disalahkan?. Setelah itu kita sibuk mencari pembenaran atas ketidakbecusan kita. Maka tidak heran kalau kualitas kader KAMMI di bawah rata-rata. Bisa kita hitung jari, berapa sih jumlah kader KAMMI yang murni lahir dari rahim KAMMI yang menjadi tokoh kampus?. Jawabannya boleh dibilang nihil. Ini harus diakui, secara kualitas kita memang kalah dengan teman-teman dari elemen gerakan lain. Tapi kalau secara kuantitas (di atas kertas), saya angkat topi untuk itu. Jangan-jangan inilah wajah KAMMI yang sesungguhnya.
Kawan!, genderang perubahan telah terlanjur kita lakoni. Reformasi 1998 telah menjadi momentum awal perjuangan KAMMI. Dan KAMMI mengambil peran yang sangat besar dan signifikan di dalamnya. Dimana di saat elemen gerakan lainnya sedang mati rasa lantaran terlalu bermesraan dengan rezim orde baru, dimana semua orang memaki siapa saja yang berbau orde baru. Makanya KAMMI layak bertanggung jawab untuk perubahan itu, serta tetap terus mengawal perubahan itu. Maka tidak ada jalan lain lagi bagi KAMMI kecuali terus mengawal perubahan itu dan tetap konsisten mengawal amanah reformasi. KAMMI mau tidak mau, suka tidak suka harus mempersiapkan diri untuk mengembang amanah besar iru.
Kawan!, apakah kita rela negeri ini dikelola oleh orang-orang yang tidak bermoral? Orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang setiap hari merampok kekayaan negeri ini. Bayangkanlah!, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan kitalah yang akan menjadi pemegang estafet kepemimpinan bangsa ini. Oleh karenanya, untuk mengelola bangsa ini tidak cukup hanya bermodalkan kesalehan saja akan tetapi harus memiliki kapabilitas intelektual yang mapan. Oleh karenanya kita harus mulai dari sekarang. Kata orang bijak; siapa yang menanam hari ini, maka ia akan menikmatinya besok.

Membangun taradisi intelektual adalah suatu keniscayaan. KAMMI hanyalah elemen kecil tempat kita berinteraksi dan beraktualisasi. KAMMI tidak akan pernah besar tanpa dibarengi dengan kekuatan intelektual para kadernya, atau setidaknya mampu melahirkan tokoh-tokoh kampus. Oleh karenanya pra syarat untuk itu adalah hidupnya tradisi intelektual dalam tubuh KAMMI. Kengganan kita untuk memulai diskusi adalah pertanda kemandulan intelektual kita. Memulai diskusi tidak harus formal ada yang jadi pemateri, ada pengeras suara, peserta yang berjubel jumlahnya, harus dalam ruangan, ada tanya jawab tanpa ada pernyataan. Bagi saya, ini adalah tradisi intelektual (yang) malu-malu. Satu sisi kita ingin membangun sebuah rumah intelektual tapi masih setengah hati dan malu-malu serta selalu merasa tidak mampu. Hilangkan segera. Sebab kalau tidak, kita secara tidak langsung telah menge-utanasia KAMMI, lalu mati secara mengenaskan. Tragis!. Saya berharap ini tidak akan terjadi. Semoga.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Ospek dan Represifitas Birokrat (Tinjauan Kritis atas Pelarangan Ospek) Lagi menatap sesuatu nih, di Belakang gedung Pusat kegiatan Penelitian (PKP) Unhas

2 Komentar Add your own

  • 1. muharrik  |  Februari 19, 2006 pukul 5:11 am

    Lara meraja
    Ini muka penuh luka*
    -punya siapa?-*
    perjuangan ini seperti nadiku saja
    tanpanya mati aku jadinya!

    ‘kumpulan kata2’ di atas lahir saat diri merasa tak berdaya.
    Ingin melakukan sesuatu u ‘organisasi ini’ namun tak tahu ingin memulai dari mana!
    Saat kekecewaan telah lewat ambangnya!
    Saat merasa sendirian dan ditinggalkan!
    Saat ingin pergi saja seperti yang lainnya!
    tapi tahukah??
    Tak ada keinginan sedikitpun untuk menyalahkan sesiapa!
    Karena KAMMI sudah di dada
    Dan orang2x adalah saudara
    Karenanya kupilih bijak saja
    Membersamainya untuk kemudian membuatnya dewasa
    Mapan dan berjaya…

    *pinjam punya Khairil Anwar

  • 2. sahabat99  |  Maret 3, 2008 pukul 4:43 am

    Assalamualaikum
    jangan lupa kunjungi “www.partaikeadilansejahtera.wordpress.com’
    beritahukan juga pada yang lain karena ada diskusi menarik disana. salam ukhuwah.
    wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Januari 2006
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: