Mendambakan Perubahan di Unhas (Cerita tentang Kebersamaan dari Bengkel Kerja Mahasiswa Unhas)

Desember 27, 2005 at 3:32 am Tinggalkan komentar

Mendambakan Perubahan di Unhas

Mendambakan Perubahan di Unhas
(Cerita tentang Kebersamaan dari Bengkel Kerja Mahasiswa Unhas)

Oleh Aryanto Abidin
Anggota Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Perikanan dan
Alumni Bengkel Kerja Mahasiswa Unhas 2005

Berangkat dari sebuah tujuan mulia ingin membentuk sebuah lembaga kemahasiswaaan di tingkat universitas. Maka cerita ini pun lahir untuk sekedar meramaikan lalulintas pikiran kita. Boleh jadi tulisan ini akan menambah cakrawala berpikir kita atau bahkan boleh jadi tulisan ini sangat provokatif, sehingga kemudian dicap sebagai pengganngu. Saya berharap tulisan ini kemudian tidak divonis bersalah. Saya juga berharap ada sedikit kearifan sehingga bisa memaknai kehadiran tulisan ini. Acara Bengkel Kerja Mahasiswa Unhas ini dilaksanakan di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Antang yang berlangsung dari tanggal 20 – 26 Desember 2005. Acara yang dihadiri oleh perwakilan lembaga kemahasiswaan dan anggota Komisi pemilihan Umum (KPU) mahasiswa unhas merupakan bagian dari upaya persiapan pembentukan Lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas. Acara ini layaknya sebuah acara pengkaderan bagi aktivis lembaga mahasiswa. Hal ini terlihat jelas dari materi-materi yang disampaikan dalam acara tersebut seperti berfikir system (System thinking), Pembelajaran tim, Kesalehan pribadi dan itelegensia., visi bersama, hambatan system, analaisis akar penyebab (root cause analyisis), pembelajaran primer dan materi integritas.

Malam Bertabur Aktivis; Bukan sekedar romantisme sejarah

Ada yang menarik dari rangkaian acara kegiatan ini, yakni dialog antar generasi. Acara ini sebenarnya tidak diagendakan dalam jadwal acara. Walaupun jauh-jauh hari sebelumnya sudah di rencanakan bahwa akan ada dialog antar generasi yang menghadirkan para aktivis pada masanya. Acara yang diagendakan khusus pada malam 26 Desember pukul 20.00 ini menghadirkan para aktivis pada masanya masing-masing daintaranya adalah A. Razak Taha, Taslim Arifin, Anwar Ibrahim, Aminuddin Ilmar, Amran Razak, Ambo Ala, Alwi Rahman, Syafri Guricci, Faisal Abdullah, Seluruh Pembantu Dekan (PD) III, dan Abdul Syukur A Bafadal. Nama yang terakhir ini merupakan aktivis angkatan 2000-an. Semula acara ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk mempertemukan pemikiran atau lebih tepatnya silaturahmi pemikiran dalam kaitannya membangun nuansa kearifan di kampus merah (Unhas). Sayangnya malam yang bertaburan aktivis ini belum mampu memberikan sumgsih pemikiran yang berarti untuk membangun kultur akademik yang memang telah mati di Unhas. Proses yang terjadi hanyalah romantisme sejarah antara sesama aktivis masa lalu. Padahal ada agenda atau pembicaraan yang cukup urgen yakni meng-create unhas, sehingga unhas tidak dikenal lantaran karena seringnya tawuran.

Dalam pandangan saya diskusi lintas generasi merupakan ide yang sangat cemerlang apalagi kalau pembicaraannya tentang ke-Unhasan. Tapi kenapa justru dalam diskusi tersebut didominasi oleh cerita tentang romantisme aktivis masa lalu. Padahal konteks sekarang sangat jauh beda dengan konteks dulu. Menurut saya hal yang menarik untuk dibahas dalam kontek sekarang adalah permasalahan kehidupan ber-Unhas, misalnya saja tawuran. Permasalahan ini sangat menarik untuk dibicarakan. Betapa tidak, tawuran selalu menjadi kegiatan yang berulang di Unhas, maka wajar saja ketika orang mendengar nama unhas selalu dikaitkan dengan tawuran. Terutama. Artinya ada identas yang melekat padanya (unhas), yaitu identitas tawuran. Bukankah identitas adalah kegiatan yang berulang?. Agar dapat menyamakan persepsi, maka saya akan memberi Contoh kasus. Seseorang mengambil barang orang lain belum disebut sebagai pencuri, kalau dia melakukannya baru satu kali. Orang tersebut telah melakukan kegiatan mencuri. Akan tetapi bila kegiatan itu dilakukan berulang-ulang maka dia disebut pencuri. Inilah identitas yang saya maksud.

Yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa permasalahan tawuran ini selalu menjadi kegiatan berulang dalam kehidupan ber-unhas?. Gerangan apa yang terjadi?. Padahal di Unhas ini mantan aktivis yang berkecimpung di birokrasi sangat banyak. Tapi kenapa permasalah tawuran tidak menjadi agenda yang menarik untuk diperbincangkan?. Saya menduga bahwa keinginan baik kita untuk membuat unhas mampu bersaing di tingkat nasional menjadi semu.

Bengkel Kerja Mahasiswa; Bukan Sekedar Temu Kangen Gerombolan Aktivis

Sikap apriori yang ditunjukan oleh sebahagian mahasiswa unhas terhadap isu pembentukan Lema sangat beralasan. Betapa tidak, mahasiswa di tingkat grass root tidak mengetahui secara pasti tentang pembentukan lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas. Bahkan akses informasi untuk itu (boleh dibilang) tidak ada. Maka jangan heran intererst mahasiswa terhadap isu pembentukan Lema ditanggapi dingin oleh sebahagian besar mahasiswa unhas. Isu pembentukan lema hanya menjadi perdebatan yang cukup menarik hanya pada tataran pengurus lembaga atau ketua-ketua BEM. Oleh karenanya utnuk membangun kebersamaan bukan hanya pada tataran pengurus lembaga saja, akan tetapi mari kita mencoba melihat ke bawah. Apa kebutuhan mahasiswa pada tatarn akar rumput. Sehingga kebersamaan yang coba dibangun, bukan kebersamaan yang disimbolkan oleh beberapa (tokoh) mahasiswa atau pengurus lembaga. Pengurus lembaga harus mampu membangun kesadaran berlembaga di tingkat cultural, sehingga pesan yang ingin kita samapaikan tentang masa depan unhas akan sampai tingkat grass root.

Budaya saling menghargai dalam Bengkel Kerja Mahasiswa

Ada yang meanarik dari kegiatan ini, selain materi-materi yang diberikan, juga proses yang berlangsung dalam acara ini. Dalam hal ini adalah adanya kesetaraan antara pemateri dengan peserta serta tidak ada yang saling mendominasi. Semua peserta dapat dengan bebas menyampaikan hasil pemikirannya masing-masing. Dalam proses tersebut tidak pemahaman benar dan salah akan tetapi yang ada hanyalah benar dan benar. Saya berharap budaya seperti ini dapat tercipta dalam setiap ruang-ruang kelas yang ada di unhas. Sehingga kearifan dapat tercipta di lingkungan unhas.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

aryantoabidin Antara Koboi, Pemerintah dan Wakil Rakyat Kita (Koreksi Total untuk Manusia Indonesia Seutuhnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 21,804 hits

Arsip

Desember 2005
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: