Posts filed under 'Tips menulis'
Syndroma of Literer (Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)
Syndroma of Literer
(Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)
Oleh: Aryanto Abidin
Entah sudah berapa buah buku yang sudah saya baca, yang secara khusus membahas tentang menulis. Hingga akhirnya saya jenuh membacanya., dan saya pun berkesimpulan menulis tidak cukup dengan teori. Akan tetapi memulai menulis itu adalah resep yang paling mujarab. Dapat pula kita ajukan pertanyaan, entah sudah berapa buku yang membahas tentang budaya menulis. Atau entah sudah berapa banyak penulis yang menulis tentang menulis. Perkembangan dunia kepenulisan yang begitu “dahsyat” dan dinamis membuat orang berbondong-bondong berkiblat kepada dunia literer. Dunia yang dulunya sangat “tabu” untuk dilakoni, bahkan terkesan “najis” untuk disentuh. Celakanya lagi dunia kepenulisan-dulunya-hadir dalam rupa yang superioritas yakni milik mereka yang bergelut di dunia sastera. Sekarang, dunia kepenulisan begitu akrab dengan keseharian kita, menembus ruang dan waktu serta batas usia. Maka jangan heran bila ada anak-anak usia TK atau SD sudah populer dalam menulis. Buku yang membahas tentang menulis bertebaran di sudut-sudut toko. Bahkan saking banyaknya pecandu literer: litereoholic (baca: pelaku, penikmat dan penyuka dunia kepenulisan) jenis-jenis tulisan pun bermunculan bahkan mebentuk mazhab-mazhab baru dalam dunia kepenulisan.
Continue Reading 3 comments Agustus 24, 2006
Menulis itu "Sexy" (Obat Kuat untuk Calon Manusia Indonesia Seutuhnya)
Menulis itu "Sexy" (Obat Kuat untuk Calon Manusia Indonesia Seutuhnya)
Jika kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah
[………….]
Bila mulut dibungkam, maka pena harus bicara
[Adagium wartawan]
Kalau pada saya ditanya, hal apakah yang tidak disukai?, maka saya dengan tegas akan menjawab: membaca. Lalu apalagi? Maka saya akan menjawab lagi: menulis. Sebegitu parahkah saya? Atau mungkin juga anda. Oh…!, tunggu dulu. Itu dulu, waktu saya masih anak sekolahan. Sejak SMP dan SMA, saya paling tidak suka yang namanya mengarang. Tapi karna tuntutan nilai, maka sayapun ”terpaksa” atau lebih tepatnya pura-pura suka terhadap mata pelajaran mengarang. Sebab, kalu tidak, maka nilai bahasa Indonesia saya akan berpengaruh. Bisa-bisa terancam nilai merah. Dalam setiap ujian, mengarang memiliki bobot nilai yang paling tinggi. Namun anehnya, ketika saya memulai mengarang, kata-kata dalam pikiran saya begitu mengalir di atas krtas ujian. Bahkan tak jarang saya harus meminta tambahan kertas ujian.
Continue Reading 10 comments Juni 4, 2006