Luka itu Milik Siapa?

Agustus 3, 2006

Ada tanya mulai memburu: mengapa harus ada luka?
Tapi kenapa tidak kau tanyakan: darimana luka itu?
Sudikah kita melihat kuntum-kuntum iman
yang sedang layu di taman-taman dakwah
Sekedar mengokohkannya untuk tetap teguh
Lalu menuai kuntum-kuntum yang baru

Kawan!
Sepertinya, ada yang mencuri ukhuwah kita pagi ini
Saat doa Rabitha lupa mengoyak sunyi
Sebagai kado iman untuk saudara-saudara kita
Hingga malam menyembunyikan siang
Sampai waktu akan terus menjaga mereka

Kawan!
Mengapa ada tanya: mengapa harus ada luka?
Mengapa tanya itu harus memecah telinga?
Tidakah kau tanya: untuk apa tanya itu?
Sepertinya tanya itu hanya menorehkan memar di jiwaku
Membuat luka yang teramat lebar di hatiku
Aku hanya berharap, semoga waktu menyembuhkan lukaku

Aku masih saja disiksa pertanyan
Dan engkaupun harus ungkapkan tanya: luka itu milik siapa?
Ah, sepertinya tanya ini hanya miliku saja
Mungkin juga rasa ini rasaku jua

Kamar kontempelasi, rumah sejuta ide, Wesabbe D 17
Kamis, 3 Agustus 2006 Jam 8 pagi

Saat matahari pagi menyemburkan sinar keagungannya,
menebar rezki kepada siapa saja. Saat waktu mulai luruh.
Saat sekertariat ini mulai disesasaki dengan rapat,
walau sesekali membuyarkan kontempelasiku.
Saat nalarku masih menyimpan tanya itu.
Saat jiwaku masih saja resah dengan tanya itu.
Maka akupun memilih menuntaskan resahku dengan
bait (puisi) picisan ini. Untuk itulah puisi ini tercipta.

Entry Filed under: Puisi. .

7 Comments Add your own

  • 1. Chaerani  |  Agustus 22, 2006 at 2:24 am

    waaah, aku suka sekali dengan puisinya.
    Aku kok sedih banget, aku merasa yang terluka itu adalah Junjunan kita, Nabi Besar kekasih Allah, Muhammad SAW, meliat bagaimana umat yang dicintainya sekarang ini dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
    Itulah yang beliau resahkan didalam sakaratul mautnya, ummati…ummati…

  • 2. beingEconomiSt  |  September 15, 2006 at 8:08 am

    AssWrWb puisi Luka itu milik siapa?masih menyisakan jawaban di benakku,jazakumullah atas ikatan ukhuwah yang telah dibina di jalan dakwah ini,khusus para ikhwan yang kemaren ‘mengawal’keberangkatan kami para akhwat saat usai kongres LEMA-UH.Puisi ane yang dicabut di D17 itu adalah gambaran kondisi riil terhadap pelecehan eksistensi seorang perempuan di ranah publik…yang ditujukan bagi orang ammah, 431 yang mengeksploitasi perempuan hanya sebagai objek panitia konsumsi dengan tampilan agak menggoda kaaum ikhwan.Tapi ane salut dengan tulisan antum tentang perempuan di blog-antum,semoga puisi kemaren ‘Bias kata tak terkuburkan’ menggugah paradigma berpikir antum tentang perempuan.Tunggu aja tulisan ane berikutnya yang lebih mengejutkan….Tetap semangat buat tim dakwah PLC,BEM,KAMMI,FKMKI.bIARLAH luka itu hanya milikku saja tak usah ada rasa luka yang sama di jiwa antum….Btw,coz dah mo ramadhan afwan jiddan bwt lisan yang tak terjaga slama ni dan perilaku yang kurang berkenan…..ane ingetin lagi!amanah antum untuk menghadiri rapat di satu lini….atw lagi concern ma akademik? Syukron katsir….

  • 3. Aryanto Abidin  |  September 16, 2006 at 6:11 pm

    Waalaikumussalam. wr wb. pertama-tama thanks ya tlah berkunjung ke blog ane. ane paling ga tega liat perempuan yang biasa2 aja. paling gemes liat perempuan yang cuma mau “dieksploitasi” atau hanya jadi “obat nyamuk”, hanya jadi pemanis saat rapat. Ane bahagia lihat perempuan yang kritis dan cerdas n paling ga tahan kalo lihat perempuan yg terlalu pendiam. Tapi ane yakin, akwat tuh cerdas2, hanya saja tingkat kecerdasan itu yang berbeda2. Jempol untuk perempuan yang cerdas.

  • 4. mujahidah  |  Juli 20, 2007 at 4:22 am

    Akhwat cerdas!#$ harus itu! karena mereka adalah tonggak perubahan. di balik kehebatan para ikhwan ada sosok tawadhu yang membentuk mereka. siapa lagi kalo bukan…(jawab sendiri). Yang perlu ditumbuhkan pada diri akhwat adalah keberanian. kadang segudang ide di kepala tak terbahasakan. hanya karena kurang PD. merasa ikhwan superior. tanga kenapa? mungkin latar belakang kaluarga yang sangat patriarki. tapi, yakinlah …mereka sedang berusaha untuk keluar dari keterkungkungan budaya. afwan, kurang sepekat dengan istilah kehadiran akhwat cuma pemanis di saat rapat. apakah antm semua lupa, bahwa keberadaan kita di dakwah ini turut memberikan kontibusi dalam jelang kejayaan dan kebangkitan umat. ingat nggak kisah seorang wanita di zaman Rasulullah yang rajin menyapu masjid. Apapun itu..jangan katakan kehadiran akhwat cuma pemanis.

  • 5. mujahidah  |  Juli 20, 2007 at 4:26 am

    Untuk seluruh jajaran tim bangunan dakwah di Unhas hari ini masuk tanggal 2 di bulan rajab. udah melantunkan doa belum? Allahumma bariklana fii rajaba wa sya`ban wa balighna fii ramadhan. Semoga kita diizinkan oleh Allah untuk bertemu hari yang suci.

  • 6. asis bujang  |  Februari 10, 2008 at 3:37 pm

    Thanks puisinya bagus, semoga luka itu bisa terobati dengan semangat dan motivasi untuk tetap berda’wa, balutlah luka itu dengan ikhsan

  • 7. dhani wisnu  |  Agustus 4, 2009 at 7:29 am

    salam kenal…wah blog yang bagus n membangun sekali,saya suka bacanya….kapan-kapan tak main lagi ke sini ya…..

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

Arsip

 

Agustus 2006
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

Kayanya Negeri Kita,… di Sumber Daya Perikanan, Kekayaa…
mitha di MEREKONSTRUKSI PARADIGMA GENDE…
IINDRA BAYU PRATAMA di Sumber Daya Perikanan, Kekayaa…
nurman di Sumber Daya Perikanan, Kekayaa…
dhani wisnu di Luka itu Milik Siapa?

Tulisan Teratas

Blogroll

Meta