MEREKONSTRUKSI PARADIGMA GENDER (Upaya Meluruskan Pemahaman Tentang Gender)1

Januari 25, 2006 at 3:27 pm 4 komentar

Oleh : Aryanto Abidin2

AWAL MULA GERAKAN FEMINISME
Membicarakan masalah gender merupakan topik yang sangat menarik untuk dibahas sekaligus untuk dicarikan solusinya. Berbicara tentang masalah gender berarti kita tidak pernah lepas dari masalah ketidak adilan sosial. Isu gender merupakan implikasi dari ketidakadilan sosial ditinjau dari aspek hubungan antara jenis kelamin. Isu gender sesungguhnya lahir dari kesadaran kritis kaum perempuan terhadap keterbelakangan kaumnya. Bila kita telusuri sejarah kelam kaum perempuan pada masa lampau khususnya eksistensi/keberadaan perempuan dimata agama-agama, misalnya saja agama yahudi yang menjauhi perempuan yang haid dan diasingkan ke suatu tempat yang khusus. Demikian juga dengan agama-agama lain seperti agama kristen dan hindu yang selalu menganggap rendah kaum perempuan3.

Bila kita memakai analisis gender yang diungkapkan oleh DR. Mansour Fakih maka perlakuan sebagian agama terhadap perempuan tersebut merupakan suatu bentuk kekerasan gender (gender violence). Akibat dari perlakuan sebahagian agama yang tidak adil dan cenderung melecehkan kaum perempuan tersebut sehingga lahirlah paradigma/anggapan yang cenderung meng-generilisasikan bahwa agama merupakan salah satu faktor yang turut andil dalam mengkokohkan ketidakadilan terhadap perempuan. Hal tersebut merupakan “trauma sejarah” bagi kaum perempuan ataupun pemerhati gender. Sehingga orang ramai- ramai mencampakan agama. Padahal kalau kita amati dari kacamata islam, maka sesungguhnya kaum perempuan justru terbebaskan dari belenggu jahiliyah setelah datangnya islam yang di bawa nabi Muhammad SAW. Jadi generilisasi atau penyamarataan semua agama terhadap penerimaan atau perlakuan agama terhadap perempuan yang cenderung diskriminatif adalah tidak benar. Justru islamlah yang pertama kali turut andil membebaskan perempuan dari belenggu jahiliah. Hanya saja persepsi atau pemahaman orang tentang islam yang belum tuntas dan cenderung memahaminya secara parsial atau sebahagian-sebahagian. Isu gender kemudian mulai santer dibicarakan pada awal abad ke-20. Hal ini merupakan akumulasi kekerasan atau ketidak adilan terhadap keberadaan perempuan baik di dalam rumah tangganya, tempat kerjanya, lingkungan sosialnya maupun di tingkat pemerintahan yang terjadi pada masyarakat Eropa pada waktu itu. Isu gender bukan lagi permasalahan yang temporal atau sifatnya sementara akan tetapi sudah menjadi isu yang sifatnya kontemporer atau berlaku sepanjang massa bahkan cenderung mengarah kepada gejala sosial baru yang harus disikapi secara arif dan bijaksana.

Menurut DR. Mansour Fakih, seperti halnya analisis dan teori kelas yang dicetuskan oleh Karl Marx, dapat membantu analisis sosial saat ini untuk memahami bentuk ketidak adilan ekonomi dan kaitannya dengan sistem sosial yang lebih luas. Demikian juga Antonio Gramsci dan Louis Althusser membahas ideologi dan kultural serta menggugat keduanya karena dianggap sebagai alat dan bagian dari mereka yang diuntungkan untuk melanggengkan ketidak adilan. Seperti halnya teori kritik yang diungkapkan oleh kedua tokoh tersebut maka harus ada suatu teori atau analisis baru yang yang mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek hubungan antar jenis kelamin yang belum pernah disinggung oleh teori-teori di atas. Analisis yang dimaksud adalah analisis gender, suatu analisis yang menjadi alat bagi gerakan feminisme.

Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan karena alasan sebagai berikut. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisisi untuk memahami persoalan-persoalan ketidak adilan yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differens) dengan dan ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur ketidak adilan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam membahs ketidakadilan sosial. Maka sessungguhnya terjadi keterkaitan antara persoalan gender dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya..

REKONSTRUKSI PEMAHAMAN GENDER
Sampai saat ini pengertian tentang konsep gender masih sangat kabur. Orang-orang pada umumnya cenderung meberi definisi gender sebagai jenis kelamin (Sex) bahkan apabila kita membuka kamus gender tidak secara jelas membedakan antara pengertian kata sex dan gender. Baiklah mari kita memberikan definisi konsep gender menurut DR. Mansour Fakih yakni semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat yang lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas ke kelas yang lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa gender (seperti: sifat lemah lembut, emosional, irasional) bukan merupakan hal yang sifatnya kodrati akan tetapi merupakan hasil konstruksi sosial. Dengan demikian menurut analisa DR Mansour Fakih laki-laki juga bisa bersifat seperti sifat yang layak dimiliki oleh perempuan.

Dalam menjernihkan perbedaan perbedaan antara sek dan gender yang menjadi masalah adalah, terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut seks dan gender. Dewasa ini terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya di masyarakat, dimana apa yang sesungguhnya gender, karena pada dasarnya merupakan konstruksi sosial justru dianggap sebagai kodrat atau menjadi ketentuan Tuhan.

Buku ini mencoba merekonstruksi kembali kesalahan berpikir kita yang selalu mengkultuskan atau memposisiskan gender (seperti: sifat lemah lembut, emosional, irasional) sebagai kodrat atau ketentuan Tuhan padahal sebenarnya tidak demikian. Buku ini mencoba menyajikan secara sederhana apa sebenarnya analisis gender. Analisis dan teori gender, sebagaimana layaknya analisis teori kelas,analisis kultural, adalah alat analisis untuk memahami realitas sosial. Sebagai teori, tugas utama analisis gender adalah memberi makna, konsepsi,asumsi, ideologi dan praktek hubungan baru antara kaum laki-laki dan perempuan serta implikasinya terhadap kehidupan sosial yang lebih luas (Sosial, ekonomi, politik, budaya) yang tidak dilihat oleh teori ataupun analisis sosial lainnya.. Dengan kata lain analisis gender merupakan kacamata baru untuk menambah, melengkapi analisis sosial yang telah ada, dan bukan menggantikannya. Diasamping itu juga buku ini mebahas secara sederhana dan gamlang hubungan antara anlisis gender dan tafsir agama.

Dari kacamata islam buku ini tidak secara konsisten mebahas gender menurut alqur’an dan sunnah dan justru kadang-kadang mengkaburkan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam dua pegangan umat islam tersebut, menurut pemahaman yang dangkal. Akan tetapi Buku ini cukup memberikan sumbangsih yang besar bagi munculnya teori analisis sosial baru, yakni sebuah teori yang membahas tentang ketidak adilan sosial yang ditinjau dari sudut pandang hubungan antar jenis kelamin. Lebih dari itu, Buku Analisis Gender yang ditulis Oleh Mansour Fakih merupakan lampu penerang bagi kesalah pahaman tentang makna gender sebenarnya.

1. Tulisan ini merupakan sebuah resensi dari buku Analisis gender dan
Transformasi Sosial yang ditulis oleh Mansour Fakih
yang diresensi oleh peresensi tiga tahun lalu.
2. Peresensi adalah Staf Kebijkan Publik KAMMI Daerah Sulsel
bisa dikirimi e-mail lewat: aryanto@eramuslim.com atau al_akh_mbojo81@yahoo.com.
Penulis beralamat di http://www.aryantoabidin.blogspot.com/. Mampirlah sejenak, sambil minum
kopi pahit dan berdiskusi tentang indonesia dan manusia Indonesia.
3. Baca Ensikolopedia Wanita Muslimah

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pandangan: ilahiah Vs kapitalisme dan neo kapitalisme IDEOLOGI, PERLUKAH DIPERTAHANKAN?

4 Komentar Add your own

  • 1. enCek  |  Mei 28, 2008 pukul 8:13 am

    saya lagi garap pendidikan gender vs pendidikan Islam…!oiya garapan yang saya maksud adalah skripsi..!oiya kalo ada yang mau dandanin skripsi sama saya gak pa2..!

  • 2. chacha  |  Maret 7, 2009 pukul 1:49 am

    atas dasar apa anda mengatakan bahwa agama kristen merendahkan kaum perempuan?sbgai seorang kristen saya justru merasakan kesetaraan antara wanita dan pria karena kita diciptakan sebagai pendamping bukan sebagai hamba dari kaum laki2..dan kdari apa yang saya pahami memang wanita dititahkan untuk menghormati pria namun pria juga harus mengasihi dan menghargai wanita…saya rasa tidak ada yang lebih tinggi atau rendah karena pada dasarnya TUHAN melihat kita semua sama sebagai anak2Nya

  • 3. mitha  |  Oktober 16, 2009 pukul 6:03 am

    skripsi saya tentang perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan terhadap perilaku teman tapi mesra..setelah pendadaran saya diharuskan memberikan penambahan teori tentang rekonstruksi gender..saya sendiri g begitu paham tentang teori tersebut..apakah bisa menolong saya?terima kasih

  • 4. yoona  |  Oktober 2, 2012 pukul 10:40 am

    tapi gw beda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 19,183 hits

Arsip

Januari 2006
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tulisan Terakhir


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: